LAPORAN
RESMI SKILL LAB
MODUL
CARDIOVASKULAR
NAMA : FAZA DINAZAD
NIM : 312110012
PRODI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2014
I.
TUJUAN
a. Agar
mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi dan tatalaksana penyakit hipertensi
b. Agar
mahasiswa mampu menetapkan pengobatan dengan dosis yang tepat untuk pasien
hipertensi
c. Agar
mahasiswa mampu memberikan konseling tentang penyakit hipertensi kepada pasien
d. Mahasiswa
mampu menyelesaikan masalah dengan metode SOAP
II.
LANDASAN TEORI
1. Uraian
Hipertensi
Hipertensi
merupakan suatu kelainan, suatu gejala dari gangguan pada mekanisme regulasi
tekanan darah.
Penyebabnya
diketahui hanya lebih kurang 10% dari semua kasus, antara lain akibat penyakit
ginjal dan penciitan aorta/arteri ginjal, juga akibat tumor di anak. Ginjal
dengan efek over produksi hormon-hormon tertentu yang berkhasiat meningkatkan
tekanan darah (feochromcytoma). Dalam kebanyakan hal penyebabnya tidak di
ketahui, bentuk umum ini di sebut hipertensi esensial, faktor keturunan
berperan penting pada timbulnya jenis hipertensi ini.
Resiko
hipertensi yang tidak di obati adalah dan dapat menyebabkan kerusakan pada
jantung, otak dan mata. Tekanan darah yang terlampau tinggi menyebabkan jantung
memompa lebih keras, yang akhirnya dapat mengakibatkan gagal jantung
(decompensation) dengan rasa sesak dan udem di kaki. Pembuluh juga akan lebih
mengeras guna menahan tekanan darah yang meningkat. Pada umumnya resiko
terpenting adalah serangan otak (stroke, beroerta, kelumpuhan separuh tubuh)
akibat pecahnya suatu kapiler dan mungkin juga infark jantung. Begitu pula
cacat pada ginjal dan pembuluh mata. Yang dapat mengakibatkan kemunduran
penglihatan. Komplikasi otak dan jantung tersebut sering bersifat fatal, di
negara-negara Barat 30% lebih dari seluruh kematian disebabkan oleh hipertensi.
Hipertensi
tidak memberikan gejala khas, baru setelah beberapa tahun. Adakalanya pasien,
merasakan nyeri kepala pagi hari sebelum bangun tidur, nyeri ini biasanya
hilang setelah bangun, gangguan hanya dapat dikenali dengan pengukuran tensi.
2. Mekanisme Terjadinya Hipertensi
System Renin Angiontensin
Aldosteron, singkatnya RAAS. Bila volume darah yang mengalur melalui ginjal
berkurang dan tekanan darah di glomeruli ginjal menurun, misalnya karena
penyempitan arteri setempat, maka ginjal dapat membentuk dan melepaskan enzim proteolitis rennin. Dalam plasma renin
menghidrolisa protein angiotensinogen (yang terbentuk dalam hati) menjadi
angiotensin I (AT1). Zat ini dirubah oleh enzim ACE (Angiotensin Converting Enzym, yang
disentesa antara lain di paru-paru) menjadi zat aktif angiotensin II (AT2).
AT2 ini antara lain berdaya vasokonstriktif kuat dan menstimulasi
sekresi hormon aldosteron oleh anak ginjal dengan sifat retensi garam dan air.
Akibatnya ialah volume dan tekanan darah naik lagi. (Tjay dan Raharja,2011)
3. Pembagian Hipertensi
Pembangian hipertensi berdasarkan
penyebabnya adalah :
a) Hipertensi
Primer, adalah hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya (hipertensi
esensial). Terjadi peningkatan kerja jantung akibat penyempitan pembuluh darah
tepi sebagian besar (90-95%) penderita termasuk hipertensi primer.
b) Hipertensi
sekunder, merupakan hipertensi yang disebabkan oleh penyakit sistemik lain.
Misalnya gangguan hormon (eushing), penyempitan pembuluh darah utamanya ginjal
(stenosis arteri renalis) akibat penyakit ginjal dan penyakit sistemik lainnya,
jumlah hipertensi sekunder kurang dari 5% penduduk dewasa di Amerika
Dikenal juga keadaan yang disebut krisis hipertensi,
keadaan ini terbagi menjadi dua jenis yaitu
a) Hipertensi
Emergensi, merupakan hipertensi gawat darurat, dimana TD melebihi 180/120 mmHg
disertai salah satu ancaman gangguan fungsi organ, seperti otak (pendarah
otak/stroke, ensefalopi, hipertensi), jantung (gagal jantung kiri, akut,
penyakit jantung kroner akut), paru
(bendungan diparu) dan eklampsia, atau TD dapat lebih rendah dari 180/120 mmHg
tetapi dengan salah satu gejala gangguan organ di atas yang sudah nyata
timbul, jika TD tidak segera diturunkan
dapat mengakibatkan komplikasi yang menetap, oleh karena itu harus diturunkan
dengan obat intravena (suntikan) yang bekerja cepat dalam beberapa menit
maksimal satu jam.
b) Hipertensi
urgensi, TD sangat tinggi (> 180/120 mmHg), tetapi belum ada gejala seperti
di atas, TD tidak harus di turunkan secara cepat, tetapi dalam hitungan jam
sampai dengan hari, dengan obat oral, gejalanya berupa sakit kepala
hebat/berputar (ventigo), mual, muntah, pusing/melayang, penglihatan kabur,
mimisan, sesak nafas, gangguan cemas berat, tetapi tidak ada kerusakan target organ.
(Anonim.,2011)
4. Obat-obat yang
digunakan untuk terapi Hipertensi
a) Diuretik
Diuretik menurunkan tekanan darah
dengan menyebabakan diuresis. Pengurangan volume plasma dan stroke volume (su)
berhubungan dengan diuresis dalam penurunan curah jantung (cardiac output, co)
dan tekanan darah pada akhirnya. Contohnya Furosemid, HCT, Spironolakton, manitol, Sorbitol.
b) Inhibitor
Angiotensin-Converting Enzyme (ACE)
ACE membantu produksi angiotensin II
(berperan penting dalam regulasi tekanan darah arteri). Inhibitor ACE
menurunkan tekanan darah pada penderita dengan aktifitas renin plasma normal,
bradikinin, dan produksi jaringan ACE yang penting dalam hipertensi. Contohnya Captopril, Kuinopril.
c) Penghambat
Reseptor Angiotensin II (ARB)
ARB menahan langsung reseptor angiotensin
tipe I (ATI) reseptor yang memperantarai efek angiotensin II. Cortohnya Irbesartan, Iosartan.
d) Reseptor β-Bloker
Mekanisme hipotensin β bloker tidak
diketahui tetapi dapat melibatkan menurunnya curah jantung melalui kronotropik
negatif dan efek inotropik jantung dan inhibisi pelepasan renin dari ginjal. Contohnya Propranolol, Atenolol,
Penbutolol.
e) Penghambat
Saluran Kalsium (CCB)
CCB menyebabakan relaksasi jantung dan
otot polos dengan menghambat saluran kalsium yang sensitif terhadap tegangan (voltage
sensitive), sehingga mengurangi masuknya kalsium ekstraseluler kedalam sel.
Relaksasi otot vaskular menyebabkan vasodilatasi dan berhubungan dengan
reproduksi tekanan darah.
Contohnya Verafamil, Diltiazem, Amlodipin.
f) Penghambat
Reseptor I
Menghibisi katekolamin pada otot polos
vaskular perifer yag memberikan efek vasodilatasi. Kelompok ini tidak mengubah
aktifitas reseptor 2 sehingga tidak
menimbulkan efek takikardia.contohnya
Fentolamin, Yohimbin, Doxasozin.
g) Antagonis 2
– pusat
Menurunkan tekanan darah yang pada
umumnya dengan cara menstimulasi reseptor 2 adrenergik di otak. Contohnya Clonidin.
h) Reserpin
Mengosongkan norefineprin dari saraf
akhir simpatik dan memblok transpor norefineprin ke dalam granul penyimpanan.
Pada saat saraf terstimulasi, sejumlah norefineprin (kurang dari jumlah
biasanya) dilepaskan kedalam sinaps. Pengurangan tonus simpatetik menurunkan
resistensi perifer dan tekanan darah.
i)
Vasodilatasi Arteri Langsung
Menyebabkan relaksasi langsung otot
polos arteriol. Aktifitas refleks baroreseptor dapat meningkatkan aliran simpa
tetik dari pusat vasomotor, meningkatkan denyut jantug, curah jantung, dan
pelepasan renin.
Contohnya Hidrolazin, dihidrolazin. (Sukandar, 2008)
5. Mekanisme
Terjadinya Hipertensi
Mekanisme
terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari
angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). ACE memegang peran
fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung
angiotensinogen yang diproduksi di hati.
Selanjutnya
oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I.
Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin
II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan
darah melalui dua aksi utama.
Aksi
pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus.
ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal
untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat
sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi
pekat dan tinggi osmolalitasnya.
Untuk
mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara
menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat,
yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. Aksi kedua adalah
menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal.
Aldosteron
merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk
mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl
(garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi
NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan
ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah. (Anonim, 2011).
III.
URAIAN KASUS
Bapak
KD berumur 65 tahun merupakan komisaris di perusahaan Eksport Import. Tinggi
Bapak KD 170 cm dan beratnya 90 kg. Pada saat bangun tidur merasakan kepala
pusing, tengkuk terasa nyeri dan badan lemas. Bapak KD mengkonsumsi Captopril
12,5 mg/hari diminum setelah makan. Riwayat Perokok aktif merokok 10
batang/hari. Pertanyaan :
a) Apakah
penyakit yang dialami oleh bapak KD dan tanda-tanda yang menunjukkan hal
tersebut?
b) Apa
faktor resiko yang membuat penyakit Bapak KD semakin bertambah parah?
c) Pengujian
lebih spesifik apa yang diperlukan untuk mengidentifikasi penyebab hpertensi
yang dialami Bapak KD?
d) Berdasarkan
informasi yang disajikan, analisislah dengan metode SOAP!
IV.
PENYELESAIAN
KASUS DENGAN METODE SOAP
1. Penyelesaian
kasus hipertensi dengan metode SOAP (Subjective,
Objective, Assesment, Plan)
a) Subjective
1) Identitas
Pasien
Nama Pasien : Tn. KD
Usia : 65 tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Pekerjaan : Pengusaha
2) Keluhan
Pasien : kepala pusing saat
bangun tidur, nyeri tengkuk, badan lemas.
3) Riwayat
Penyakit Keluarga : -
4) Riwayar
Penyakit Penderita : Hipertensi
5) Riwayat
pengobatan : Captopril 12.5
mg/hr
6) Perilaku
Hidup :
Perokok aktif
b) Objective
1) Data
Vital Sign
Tekanan Darah : 150/90 mmHg
Tinggi Badan : 170 cm
Berat Badan : 90 kg
Berat Badan Ideal : 68,4 kg
2) Data
Laboratorium : -
c) Assesment
1) Problem
Medik
Didalam kasus
hipertensi ini belum dilengkapi dengan data vital sign yang mencukupi dan
pemeriksaan lanjutan seperti pemeriksaan laboratorium, sehingga sulit dilakukan
anamnesis lanjutan untuk menentukan penyakit penyertanya.
2) Terapi
yang diperoleh
Terapi yang diperoleh
dari pasien adalah captopril yang merupakan anti hipertensi golongan
Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEi) dengan dosis 12.5 mg/hari.
3) DRP’s
:
·
Over
Dose :
Obat
yang diberikan tidak Over Dose karena pemakaian captopril dalam pengobatan anti
hipertensi lini pertama ini digunakan dosis awal yaitu 12.5 mg (MIMS Indonesia 2011)
·
Under
Dose :
Captopril
yang dikonsumsi pasien Under Dose karena pasien hanya mengkonsumsi 12.5
mg/hari. Menurut penggunaannya captopril dikonsumsi 12.5 mg 2x/hari pada dosis
awalnya (MIMS Indonesia 2011)
·
Pemilihan
obat tidak tepat :
Pemilihan
obat sebenarnya sudah tepat dengan menggunakan captopril namun karena adanya
peningkatan tekanan darah yang disebabkan oleh berbagai faktor resiko seperti
merokok aktif maka penggunaan captopril secara tunggal dianggap tidak tepat dan
perlu adanya kombinasi. (ISO
Farmakoterapi 2008)
·
Adverse
Drug Reaction
Efek
yang tidak diinginkan pada obat captopril ini adalah batuk, penggunaannya dalam
jangka waktu 3 bulan selama pemakaian. Efek ini muncul dengan mekanisme
penghambat pembentukan angiotensin II dan menginaktifasi bradikinin, sehingga
menyebabkan batuk. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan anti tusiv seperti
Dextrometorphan HBr atau dengan pergantian captopril dengan obat-obatan
golongan Angiotensin Reseptor Blocker yang mekanismenya berkompetisi dengan
Reseptor angiotensin II sehingga tidak terjadi inaktifasi bradikinin yang menyebabkan
batuk. Namun Efek yang tidak diinginkan ini hanya terjadi pada 15-35% penderita
hipertensi saja. (Katzung 2010)
·
Interaksi
Obat
Pada
kasus ini tidak terjadi interaksi obat dikarenakan obat yang diberikan pada
pasien adalah obat tunggal.
·
Obat
Tanpa Indikasi
Pada
kasus ini tidak terjadi interaksi obat dikarenakan pemberian terapi tunggal
pada terapi lini pertama yang dialami pasien.
·
Indikasi
tanpa obat
Tidak
ada indikasi tanpa obat pada kasus Tn. KD ini dikarenakan diagnosa yang
diberikan oleh dokter adalah hipertensi dan terapi yang diberikan adalah terapi
tunggal menggunakan captopril 12.5 mg/hari.
·
Kepatuhan
Pasien
Kepatuhan
pasien terhadap konsumsi obat anti hipertensi ini sangat rendah dikarenakan
berbagai faktor salah satunya kesibukan pasien terhadap pekerjaannya sehingga
konsumsi obat hipertensi yang diberikan menjadi tidak teratur.
d) Plan
1) Penetapan
tujuan terapi
·
Penggunaan captopril 12,5mg/hari
bertujuan untuk menurunkan tekanan darah pada pasien.
·
Menekan angka morbiditas dan mortalitas
penyakit hipertensi.
2) Solusi
dari Problem DRP’s
·
Obat antihipertensi yang diberikan
seharusnya diberikan pada dosis awal yaitu 12.5 mg diberikan 2x/hari agar
mencapai efek terapi yang diinginkan.
·
Apabila terjadi efek yang tidak
diinginkan dari obat captopril seperti batuk kering maka sebaiknya diberikan
anti tusiv atau anti inflamasi Non steroid (Dextrometorphan) atau dilakukan
pergantian obat golongan Angiotensin Reseptor Blocker (Valsartan)
·
Kepatuhan pasien dapat diatasi dengan
pemberian informasi kepada pasien dan keluarga tentang penyakit yang diderita
serta obat yang sedang dikonsumsi. Apabila pasien terlalu sibuk, dapat meminta
bantuan kepada keluarga untuk selalu mengingatkan untuk mengkonsumsi obat.
Pemasangan alarm atau pengingat dapat membantu pasien agar tidak terlupa
mengkonsumsi obat.
3) Pemilihan
Terapi farmakologi berdasar farmakoterapi rasional (4T1W)
·
Tepat Indikasi
Menurut hasil
vital sign tekanan darah didapatkan 170/110 mmHg, ditambah dengan berat badan
yang tidak ideal yang menyebabkan pasien mengalami obesitas pada usia 65 tahun
maka diindikasikan pasien menderita hipertensi stage III. Maka indikasi
hipertensi dengan obat captopril 12.5 mg sudah tepat. (ISO farmakoterapi 2008)
·
Tepat dosis
Pada terapi
hipertensi kasus Tn.KD sudah tepat dengan menggunakan tablet captopril 12,5 mg
dengan rute pemberian secara oral. Namun aturan penggunaan captopril dianggap
tidak tepat karena dosis awal diberikan 2x/hari.
·
Tepat obat
Pada terapi awal
pasien diberikan captopril 12.5 mg 2x/hari. Berhubungan dengan berbagai faktor
resiko adanya obesitas dan peningkatan tekanan darah menjadi stage III maka
terapi tunggal captopril dianggap kurang tepat, sebaiknya terapi captopril
tersebut dikombinasikan dengan diuretik golongan Thiazide seperti HCT dengan
dosis 50-200 mg/hari diberikan bersama dengan makanan.
Captopril
memiliki mekanisme kerja menghambat pembentukan angiotensin I menjadi
angiotensin II oleh Angiotensin Converting Enzym. Penghambatan ACE ini mencegah
degragadi bradikinin dan menstimulasi sintesis senyawa vasodilator lainnya
termasuk prostaglandin E2 dan prostasiklin. Pada kenyataannya,
inhibitor ACE menurunkan tekanan darah pada penderita dengan aktivitas renin
plasma normal, bradikinin, dan produksi jaringan ACE yang penting dalam
hipertensi. Sedangkan diuretik memiliki mekanisme kerja menurunkan tekanan
darah terutama dengan mendeplesi simpanan natrium tubuh. Sehingga mekanisme
aksi obat dengan diagnosa hipertensi sudah tepat obat.
·
Tepat pasien
Terapi kombinasi
Captopril dan HCT dianggap tepat untuk pasien hipertensi usia lanjut dengan
penyakit hipertensi stage III dengan obesitas, dan tidak terjadi kontraindikasi
pada masing-masing obat.
·
Waspada terhadap efek samping
Efek samping
yang perlu diwaspadai pada kombinasi obat ini adalah batuk kering dan
hipotensi. Perlu diinformasikan kepada pasien bahwa efek samping yang timbul
tidak dialami oleh semua orang, namun apabila efek samping tersebut muncul
disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Untuk sementara solusi efek
samping batuk kering yg disebabkan oleh captopril dapat diatasi dengan
penggunaan anti tusiv atau mengganti dengan golongan anti hipertensi yg lain
seperti antagonis reseptor blocker. Efek samping hipotensi dapat diatasi dengan
selalu mengontrol kondisi tekanan darahnya. Diuretik HCT dapat membuat pasien
menjadi lemas ini dapat diatasi dengan memperbanyak asupan makanan yang kaya
kalium.
4) Pemberian
informasi kepada pasien
Konseling
Informasi Edukasi yang diberikan apoteker adalah mengenai penggunaan obat
captopril 2x/hari dengan durasi waktu yang sama misalnya pagi dan malam, untuk
hari berikutnya dikonsumsi pada waktu yang sama. Obat ini dikonsumsi dalam
keadaan perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam sesudah makan) secara
peroral diminum bersama air mineral. Menjelaskan bahwa obat ini memiliki efek
samping batuk kering sehingga jika pasien mengalami hal tersebut diharapkan
segera berkonsultasi dengan dokter. Apoteker menjelaskan terapi non farmakologi
seperti olahraga ringan yang cukup, kurangi konsumsi garam dan alkohol,
berhenti merokok, dan menjaga pola hidup. Selain itu pasien dijelaskan mengenai
faktor resiko penyebab terjadinya hipertensi dan meminta pasien untuk
mengulangi penjelasan yang telah dijelaskan oleh apoteker untuk memastikan
bahwa pasien sudah mengerti dengan penjelasan tersebut.
5) Pilihan
obat yang tepat untuk pasien
6) Monitoring
efek pengobatan yang terjadi
Tujuan perawatan
antihipertensi adalah untuk menjaga tekanan darah arterial di bawah 140/90 mmHg
untuk mencegah morbiditas dan mortalitas cardiovascular. Usaha untuk menurunkan
tekanan darah sampai ke tingkat optimal (130/80 mmHg) harus dilakukan, terutama
pada pasien dengan diabetes atau gangguan fungsi ginjal.
Pengukuran
sendiri atau monitoring tekanan darah ambulatory automatis harus dilakukan
untuk mendapatkan kontrol efektif 24 jam. Pembacaan harus dilakukan 2-4 minggu
setelah memulai terapi atau ketika membuat perubahan padap terapi. Ketika
tingkat tekanan darah yang diinginkan tercapai, pembacaan bisa dievaluasi tiap
3-6 bulan pada pasien asimtomatik.
Harus dilihat
riwayat pasien untuk sakit dada, palpitasi, pusing, dispnea, ortopnea, slurred
speech, dan kehilangan keseimbangan untuk menaksir kemungkinan komplikasi
hipertensi cardiovascular maupun cerebrovascular.
Parameter lain
yang digunakan untuk mengukur manfaat terapi termasuk perubahan pada temuan
funduscopic, regression hipertropi ventrikel kiri pada ECG atau echocardiogram,
resolusi proteinuria, dan perbaikan pada fungsi ginjal.
Kepatuhan pasien
dengan regimen terapi harus dilihat secara teratur. Mereka harus ditanyai
secara periodik mengenai perubahan pada persepsi terhadap kesehatan mereka,
level energi, fungsi fisik, dan kepuasan dengan perawatan. Pasien harus
dimonitor secara rutin untuk efek samping obat.
7) Terapi
non farmakologi
Penderita
prehipertensi dan hipertensi sebaiknya dianjurkan untuk memodifikasi gaya
hidup, termasuk :
·
Penurunan berat badanjika kelebihan
berat badan
·
Melakukan diet makanan yang diambil DASH
·
Mengurangi asupan natrium hingga lebih
kecil sama dengan 2.4 g/hari (6 g/hari NaCl)
·
Melakukan aktifitas fisikseperti aerobic
·
Mengurangi konsumsi alcohol
·
Menghentikan kebiasaan merokok
Penderita yang didiagnosis
hipertensi tahap 1 dan 2 sebaiknya ditempatkan pada terapi modifikasi gaya
hidup dan terapi obat secara bersamaan. (ISO
Farmakoterapi 2008)
V.
PEMBAHASAN
Pada
contoh kasus yang diberikan, pasien berumur 65 tahun dengan jenis kelamin
laki-laki mengeluhkan pusing, lemas, dan nyeri di bagian tengkuknya. Setelah
dilakukan pemeriksaan pada tekanan darah ternyata diperoleh tekanan darah
sebesar 170/110 mmHg.
pasien memiliki berat badan 90kg
dan tinggi badan 170cm.
Hal ini kami simpulkan bahwa pasien mengalami hipertensi dan dinyatakan pasien
mengalami obesitas karena IBW yang diperoleh adalah 90 kg dimana idealnya
adalah 70 kg. Namun tidak ada pemeriksaan lebih lanjut yang menyatakan pasien
memiliki riwayat obesitas, Pasien ternyata juga merupakan perokok aktif dimana
mengonsumsi rokok 10 batang per harinya. dalam kasus ini, tidak diberikan
adanya pemeriksaan lebih lanjut terhadap pasien selain melakukan pemeriksaan
hipertensi.
pada
kasus ini menyelesaikan bahwa terapi yang digunakan pada pasien yang
terindikasikan mengalami hipertensi digunakan pengobatan secara farmakologi
Pada terapi awal pasien diberikan captopril 12.5 mg 2x/hari. Berhubungan dengan
berbagai faktor resiko adanya obesitas dan peningkatan tekanan darah menjadi
stage III maka terapi tunggal captopril dianggap kurang tepat, sebaiknya terapi
captopril tersebut dikombinasikan dengan diuretik golongan Thiazide seperti HCT
dengan dosis 50-200 mg/hari diberikan bersama dengan makanan.
Efek
samping yang perlu diwaspadai pada kombinasi obat ini adalah batuk kering dan
hipotensi. Perlu diinformasikan kepada pasien bahwa efek samping yang timbul
tidak dialami oleh semua orang, namun apabila efek samping tersebut muncul
disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Untuk sementara solusi efek
samping batuk kering yg disebabkan oleh captopril dapat diatasi dengan
penggunaan anti tusiv atau mengganti dengan golongan anti hipertensi yg lain
seperti antagonis reseptor blocker. Efek samping hipotensi dapat diatasi dengan
selalu mengontrol kondisi tekanan darahnya. Diuretik HCT dapat membuat pasien
menjadi lemas ini dapat diatasi dengan memperbanyak asupan makanan yang kaya
kalium.
Captopril
memiliki mekanisme kerja menghambat pembentukan angiotensin I menjadi
angiotensin II oleh Angiotensin Converting Enzym. Penghambatan ACE ini mencegah
degragadi bradikinin dan menstimulasi sintesis senyawa vasodilator lainnya
termasuk prostaglandin E2 dan prostasiklin. Pada kenyataannya,
inhibitor ACE menurunkan tekanan darah pada penderita dengan aktivitas renin
plasma normal, bradikinin, dan produksi jaringan ACE yang penting dalam
hipertensi. Sedangkan diuretik memiliki mekanisme kerja menurunkan tekanan
darah terutama dengan mendeplesi simpanan natrium tubuh.
tetapi
pemberian diuretik harus memperhatikan terlebih dahulu keadaan patofisiologis
dari pasienya karena pengeluaran metabolit obat sepenuhnya di ekskresikan
melalui ginjal oleh sebab itu kombinasi sebaiknya diperhatikan terlebih dahulu
memperhatikan data lab yang diperoleh,serum kreatinin dan sebagainya agar
memudahkan kita dalam memberikan kombinasi pengobatan secara farmakologi yang
tepat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terutama pada pemebrian golongan
diuretik karena obat tersebut sangat berpengaruh besar terhadap retensi cairan
dan kerja dari ginjal. Pada dasarnya pemberian obat pada pasien lanjut usia
harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut , Prinsip pemberian obat
pada pasien lanjut usia :
a.
Sebaiknya dimulai dengan satu macam obat
dengan dosis kecil
b. Penurunan tekanan darah sebaiknya secara perlahan, untuk penyesuaian
autoregulasi guna mempertahankan perfusi ke organ vital.
c. Regimen obat harus sederhana dan dosis sebaiknya sekali sehari
d. Antisipasi efek samping obat
e. Pemantauan tekanan darah sendiri di rumah untuk evaluasi efektifitas
pengobatan.
VI.
KESIMPULAN
Pada
kasus ini pasien merupakan lansia dan sebagai perokok aktif. Dimana tekanan
darahnya termasuk dalam range hipertensi stage 3. Diberikan kombinasi obat
antara kaptopril (termasuk golongan ACE inhibitor) dengan hidroklorotiazid
(termasuk golongan diuretic tiazid) karena kombinasi keduanya lebih efektif dan
mempercepat penurunan tekanan darah.
Pasien
juga perlu terapi nonfarmakologi diantaranya dengan mengubah
pola hidup/gaya hidup pasien misalnya Mengurangi konsumsi rokok , Mengurangi
aktivitas fisik yang berlebih, Diet mengadopsi pola makan DASH (Dietary
Approach to Stop Hypertension) yang kaya akan kalium , Penurunan BB, Diet
rendah natrium, Kurangi stress, Mengontrol tekanan darah, Membatasi minum kopi
dan Membatasi minum alkohol,gaya hidup pasien yang harus diperhatikan,agar
mendukung dalam proses terapi yang di dapatkan.
VII.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Mencit. (Online). (Http://id.m.wikipedia.org/wiki/mencit). diakses 20 Oktober
2011 Pukul 20.00 WITA.
Anonim.
2012. MIMS Indonesia: Petunjuk Konsultasi (Edisi 11) .Bhuana Ilmu Populer.
Wijayakusuma, Hembing
dan Setiawan Dalimartha, 2003. Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan Darah
Tinggi, Jakarta: Penebar Swadaya.
MIMS-Official
Drug Reference for Indonesian Medical Proffesion. 111th ed.
2014. Evidence-Based Guideline for the
Management of High Blood Pressure in Adults Report From the Panel Members
Appointed to the Eighth Joint National Committee (JNC 8)
Sukandar,Elin,Yulianah.,2008.
ISO Farmakoterapi. ISFI; Jakarta.
Smeltzer
& Bare. 2002. Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah. Edisi
8. Jakarta: EGC.
Tjay,Hoan,Tan.,2007.
Obat-Obat Penting. Gramedia; Jakarta.
Wibowo. (1999). hipertensi.
Chicago: makalah.
thanks senior .. ngebantu banget buat modul kardiovaskuler..
BalasHapus