Faza Dina Zad

Kamis, 13 Maret 2014

modul kardiovaskular



LAPORAN RESMI SKILL LAB
MODUL CARDIOVASKULAR






NAMA                 : FAZA DINAZAD
NIM                      : 312110012



PRODI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2014


I.                   TUJUAN
a.       Agar mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi dan tatalaksana penyakit hipertensi
b.      Agar mahasiswa mampu menetapkan pengobatan dengan dosis yang tepat untuk pasien hipertensi
c.       Agar mahasiswa mampu memberikan konseling tentang penyakit hipertensi kepada pasien
d.      Mahasiswa mampu menyelesaikan masalah dengan metode SOAP

II.                LANDASAN TEORI
1.      Uraian Hipertensi
Hipertensi merupakan suatu kelainan, suatu gejala dari gangguan pada mekanisme regulasi tekanan darah.
Penyebabnya diketahui hanya lebih kurang 10% dari semua kasus, antara lain akibat penyakit ginjal dan penciitan aorta/arteri ginjal, juga akibat tumor di anak. Ginjal dengan efek over produksi hormon-hormon tertentu yang berkhasiat meningkatkan tekanan darah (feochromcytoma). Dalam kebanyakan hal penyebabnya tidak di ketahui, bentuk umum ini di sebut hipertensi esensial, faktor keturunan berperan penting pada timbulnya jenis hipertensi ini.
Resiko hipertensi yang tidak di obati adalah dan dapat menyebabkan kerusakan pada jantung, otak dan mata. Tekanan darah yang terlampau tinggi menyebabkan jantung memompa lebih keras, yang akhirnya dapat mengakibatkan gagal jantung (decompensation) dengan rasa sesak dan udem di kaki. Pembuluh juga akan lebih mengeras guna menahan tekanan darah yang meningkat. Pada umumnya resiko terpenting adalah serangan otak (stroke, beroerta, kelumpuhan separuh tubuh) akibat pecahnya suatu kapiler dan mungkin juga infark jantung. Begitu pula cacat pada ginjal dan pembuluh mata. Yang dapat mengakibatkan kemunduran penglihatan. Komplikasi otak dan jantung tersebut sering bersifat fatal, di negara-negara Barat 30% lebih dari seluruh kematian disebabkan oleh hipertensi.
Hipertensi tidak memberikan gejala khas, baru setelah beberapa tahun. Adakalanya pasien, merasakan nyeri kepala pagi hari sebelum bangun tidur, nyeri ini biasanya hilang setelah bangun, gangguan hanya dapat dikenali dengan pengukuran tensi.
2.      Mekanisme Terjadinya  Hipertensi
System Renin Angiontensin Aldosteron, singkatnya RAAS. Bila volume darah yang mengalur melalui ginjal berkurang dan tekanan darah di glomeruli ginjal menurun, misalnya karena penyempitan arteri setempat, maka ginjal dapat membentuk dan melepaskan enzim proteolitis rennin. Dalam plasma renin menghidrolisa protein angiotensinogen (yang terbentuk dalam hati) menjadi angiotensin I (AT1). Zat ini dirubah oleh enzim ACE (Angiotensin Converting Enzym, yang disentesa antara lain di paru-paru) menjadi zat aktif angiotensin II (AT2). AT2 ini antara lain berdaya vasokonstriktif kuat dan menstimulasi sekresi hormon aldosteron oleh anak ginjal dengan sifat retensi garam dan air. Akibatnya ialah volume dan tekanan darah naik lagi. (Tjay dan Raharja,2011)
3.      Pembagian Hipertensi
Pembangian hipertensi berdasarkan penyebabnya adalah :
a)      Hipertensi Primer, adalah hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya (hipertensi esensial). Terjadi peningkatan kerja jantung akibat penyempitan pembuluh darah tepi sebagian besar (90-95%) penderita termasuk hipertensi primer.
b)      Hipertensi sekunder, merupakan hipertensi yang disebabkan oleh penyakit sistemik lain. Misalnya gangguan hormon (eushing), penyempitan pembuluh darah utamanya ginjal (stenosis arteri renalis) akibat penyakit ginjal dan penyakit sistemik lainnya, jumlah hipertensi sekunder kurang dari 5% penduduk dewasa di Amerika
Dikenal  juga keadaan yang disebut krisis hipertensi, keadaan ini terbagi menjadi dua jenis yaitu
a)      Hipertensi Emergensi, merupakan hipertensi gawat darurat, dimana TD melebihi 180/120 mmHg disertai salah satu ancaman gangguan fungsi organ, seperti otak (pendarah otak/stroke, ensefalopi, hipertensi), jantung (gagal jantung kiri, akut, penyakit  jantung kroner akut), paru (bendungan diparu) dan eklampsia, atau TD dapat lebih rendah dari 180/120 mmHg tetapi dengan salah satu gejala gangguan organ di atas yang sudah nyata timbul,  jika TD tidak segera diturunkan dapat mengakibatkan komplikasi yang menetap, oleh karena itu harus diturunkan dengan obat intravena (suntikan) yang bekerja cepat dalam beberapa menit maksimal satu jam.
b)      Hipertensi urgensi, TD sangat tinggi (> 180/120 mmHg), tetapi belum ada gejala seperti di atas, TD tidak harus di turunkan secara cepat, tetapi dalam hitungan jam sampai dengan hari, dengan obat oral, gejalanya berupa sakit kepala hebat/berputar (ventigo), mual, muntah, pusing/melayang, penglihatan kabur, mimisan, sesak nafas, gangguan cemas berat, tetapi tidak ada kerusakan target organ. (Anonim.,2011)
4.      Obat-obat yang digunakan untuk terapi Hipertensi
a)      Diuretik
Diuretik menurunkan tekanan darah dengan menyebabakan diuresis. Pengurangan volume plasma dan stroke volume (su) berhubungan dengan diuresis dalam penurunan curah jantung (cardiac output, co) dan tekanan darah pada akhirnya. Contohnya Furosemid, HCT, Spironolakton, manitol, Sorbitol.
b)      Inhibitor Angiotensin-Converting Enzyme (ACE)
ACE membantu produksi angiotensin II (berperan penting dalam regulasi tekanan darah arteri). Inhibitor ACE menurunkan tekanan darah pada penderita dengan aktifitas renin plasma normal, bradikinin, dan produksi jaringan ACE yang penting dalam hipertensi. Contohnya Captopril, Kuinopril.
c)      Penghambat Reseptor Angiotensin II (ARB)
ARB menahan langsung reseptor angiotensin tipe I (ATI) reseptor yang memperantarai efek angiotensin II. Cortohnya Irbesartan, Iosartan.
d)     Reseptor β-Bloker
Mekanisme hipotensin β bloker tidak diketahui tetapi dapat melibatkan menurunnya curah jantung melalui kronotropik negatif dan efek inotropik jantung dan inhibisi pelepasan renin dari ginjal. Contohnya Propranolol, Atenolol, Penbutolol.
e)      Penghambat Saluran Kalsium (CCB)
CCB menyebabakan relaksasi jantung dan otot polos dengan menghambat saluran kalsium yang sensitif terhadap tegangan (voltage sensitive), sehingga mengurangi masuknya kalsium ekstraseluler kedalam sel. Relaksasi otot vaskular menyebabkan vasodilatasi dan berhubungan dengan reproduksi tekanan darah. Contohnya Verafamil, Diltiazem, Amlodipin.
f)       Penghambat Reseptor I
Menghibisi katekolamin pada otot polos vaskular perifer yag memberikan efek vasodilatasi. Kelompok ini tidak mengubah aktifitas reseptor   2 sehingga tidak menimbulkan efek takikardia.contohnya Fentolamin, Yohimbin, Doxasozin.
g)      Antagonis 2 – pusat
Menurunkan tekanan darah yang pada umumnya dengan cara menstimulasi reseptor 2  adrenergik di otak. Contohnya Clonidin.
h)      Reserpin
Mengosongkan norefineprin dari saraf akhir simpatik dan memblok transpor norefineprin ke dalam granul penyimpanan. Pada saat saraf terstimulasi, sejumlah norefineprin (kurang dari jumlah biasanya) dilepaskan kedalam sinaps. Pengurangan tonus simpatetik menurunkan resistensi perifer dan tekanan darah.
i)        Vasodilatasi Arteri Langsung
Menyebabkan relaksasi langsung otot polos arteriol. Aktifitas refleks baroreseptor dapat meningkatkan aliran simpa tetik dari pusat vasomotor, meningkatkan denyut jantug, curah jantung, dan pelepasan renin. Contohnya Hidrolazin, dihidrolazin. (Sukandar, 2008)
5.      Mekanisme Terjadinya Hipertensi
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati.
Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.
Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya.
Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat, yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal.
Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah. (Anonim, 2011).
III.             URAIAN KASUS
Bapak KD berumur 65 tahun merupakan komisaris di perusahaan Eksport Import. Tinggi Bapak KD 170 cm dan beratnya 90 kg. Pada saat bangun tidur merasakan kepala pusing, tengkuk terasa nyeri dan badan lemas. Bapak KD mengkonsumsi Captopril 12,5 mg/hari diminum setelah makan. Riwayat Perokok aktif merokok 10 batang/hari. Pertanyaan :
a)      Apakah penyakit yang dialami oleh bapak KD dan tanda-tanda yang menunjukkan hal tersebut?
b)      Apa faktor resiko yang membuat penyakit Bapak KD semakin bertambah parah?
c)      Pengujian lebih spesifik apa yang diperlukan untuk mengidentifikasi penyebab hpertensi yang dialami Bapak KD?
d)     Berdasarkan informasi yang disajikan, analisislah dengan metode SOAP!
IV.             PENYELESAIAN KASUS DENGAN METODE SOAP
1.      Penyelesaian kasus hipertensi dengan metode SOAP (Subjective, Objective, Assesment, Plan)
a)      Subjective
1)      Identitas Pasien
Nama Pasien           : Tn. KD
Usia                                    : 65 tahun
Jenis Kelamin         : Laki-Laki
Pekerjaan                : Pengusaha
2)      Keluhan Pasien           : kepala pusing saat bangun tidur,                                             nyeri tengkuk, badan lemas.
3)      Riwayat Penyakit Keluarga    : -
4)      Riwayar Penyakit Penderita   : Hipertensi
5)      Riwayat pengobatan               : Captopril 12.5 mg/hr
6)      Perilaku Hidup                                    : Perokok aktif

b)      Objective
1)      Data Vital Sign
Tekanan Darah       : 150/90 mmHg
Tinggi Badan          : 170 cm
Berat Badan           : 90 kg
Berat Badan Ideal : 68,4 kg
2)      Data Laboratorium      : -
c)      Assesment
1)      Problem Medik
Didalam kasus hipertensi ini belum dilengkapi dengan data vital sign yang mencukupi dan pemeriksaan lanjutan seperti pemeriksaan laboratorium, sehingga sulit dilakukan anamnesis lanjutan untuk menentukan penyakit penyertanya.
2)      Terapi yang diperoleh
Terapi yang diperoleh dari pasien adalah captopril yang merupakan anti hipertensi golongan Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEi) dengan dosis 12.5 mg/hari.
3)      DRP’s :
·         Over Dose :
Obat yang diberikan tidak Over Dose karena pemakaian captopril dalam pengobatan anti hipertensi lini pertama ini digunakan dosis awal yaitu 12.5 mg (MIMS Indonesia 2011)
·         Under Dose :
Captopril yang dikonsumsi pasien Under Dose karena pasien hanya mengkonsumsi 12.5 mg/hari. Menurut penggunaannya captopril dikonsumsi 12.5 mg 2x/hari pada dosis awalnya (MIMS Indonesia 2011)
·         Pemilihan obat tidak tepat :
Pemilihan obat sebenarnya sudah tepat dengan menggunakan captopril namun karena adanya peningkatan tekanan darah yang disebabkan oleh berbagai faktor resiko seperti merokok aktif maka penggunaan captopril secara tunggal dianggap tidak tepat dan perlu adanya kombinasi. (ISO Farmakoterapi 2008)
·         Adverse Drug Reaction
Efek yang tidak diinginkan pada obat captopril ini adalah batuk, penggunaannya dalam jangka waktu 3 bulan selama pemakaian. Efek ini muncul dengan mekanisme penghambat pembentukan angiotensin II dan menginaktifasi bradikinin, sehingga menyebabkan batuk. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan anti tusiv seperti Dextrometorphan HBr atau dengan pergantian captopril dengan obat-obatan golongan Angiotensin Reseptor Blocker yang mekanismenya berkompetisi dengan Reseptor angiotensin II sehingga tidak terjadi inaktifasi bradikinin yang menyebabkan batuk. Namun Efek yang tidak diinginkan ini hanya terjadi pada 15-35% penderita hipertensi saja. (Katzung 2010)
·         Interaksi Obat
Pada kasus ini tidak terjadi interaksi obat dikarenakan obat yang diberikan pada pasien adalah obat tunggal.
·         Obat Tanpa Indikasi
Pada kasus ini tidak terjadi interaksi obat dikarenakan pemberian terapi tunggal pada terapi lini pertama yang dialami pasien.
·         Indikasi tanpa obat
Tidak ada indikasi tanpa obat pada kasus Tn. KD ini dikarenakan diagnosa yang diberikan oleh dokter adalah hipertensi dan terapi yang diberikan adalah terapi tunggal menggunakan captopril 12.5 mg/hari.
·         Kepatuhan Pasien
Kepatuhan pasien terhadap konsumsi obat anti hipertensi ini sangat rendah dikarenakan berbagai faktor salah satunya kesibukan pasien terhadap pekerjaannya sehingga konsumsi obat hipertensi yang diberikan menjadi tidak teratur.
d)      Plan
1)      Penetapan tujuan terapi
·         Penggunaan captopril 12,5mg/hari bertujuan untuk menurunkan tekanan darah pada pasien.
·         Menekan angka morbiditas dan mortalitas penyakit hipertensi.
2)      Solusi dari Problem DRP’s
·         Obat antihipertensi yang diberikan seharusnya diberikan pada dosis awal yaitu 12.5 mg diberikan 2x/hari agar mencapai efek terapi yang diinginkan.
·         Apabila terjadi efek yang tidak diinginkan dari obat captopril seperti batuk kering maka sebaiknya diberikan anti tusiv atau anti inflamasi Non steroid (Dextrometorphan) atau dilakukan pergantian obat golongan Angiotensin Reseptor Blocker (Valsartan)
·         Kepatuhan pasien dapat diatasi dengan pemberian informasi kepada pasien dan keluarga tentang penyakit yang diderita serta obat yang sedang dikonsumsi. Apabila pasien terlalu sibuk, dapat meminta bantuan kepada keluarga untuk selalu mengingatkan untuk mengkonsumsi obat. Pemasangan alarm atau pengingat dapat membantu pasien agar tidak terlupa mengkonsumsi obat.
3)      Pemilihan Terapi farmakologi berdasar farmakoterapi rasional (4T1W)
·         Tepat Indikasi
Menurut hasil vital sign tekanan darah didapatkan 170/110 mmHg, ditambah dengan berat badan yang tidak ideal yang menyebabkan pasien mengalami obesitas pada usia 65 tahun maka diindikasikan pasien menderita hipertensi stage III. Maka indikasi hipertensi dengan obat captopril 12.5 mg sudah tepat. (ISO farmakoterapi 2008)
·         Tepat dosis
Pada terapi hipertensi kasus Tn.KD sudah tepat dengan menggunakan tablet captopril 12,5 mg dengan rute pemberian secara oral. Namun aturan penggunaan captopril dianggap tidak tepat karena dosis awal diberikan 2x/hari.
·         Tepat obat
Pada terapi awal pasien diberikan captopril 12.5 mg 2x/hari. Berhubungan dengan berbagai faktor resiko adanya obesitas dan peningkatan tekanan darah menjadi stage III maka terapi tunggal captopril dianggap kurang tepat, sebaiknya terapi captopril tersebut dikombinasikan dengan diuretik golongan Thiazide seperti HCT dengan dosis 50-200 mg/hari diberikan bersama dengan makanan.
Captopril memiliki mekanisme kerja menghambat pembentukan angiotensin I menjadi angiotensin II oleh Angiotensin Converting Enzym. Penghambatan ACE ini mencegah degragadi bradikinin dan menstimulasi sintesis senyawa vasodilator lainnya termasuk prostaglandin E2 dan prostasiklin. Pada kenyataannya, inhibitor ACE menurunkan tekanan darah pada penderita dengan aktivitas renin plasma normal, bradikinin, dan produksi jaringan ACE yang penting dalam hipertensi. Sedangkan diuretik memiliki mekanisme kerja menurunkan tekanan darah terutama dengan mendeplesi simpanan natrium tubuh. Sehingga mekanisme aksi obat dengan diagnosa hipertensi sudah tepat obat.
·         Tepat pasien
Terapi kombinasi Captopril dan HCT dianggap tepat untuk pasien hipertensi usia lanjut dengan penyakit hipertensi stage III dengan obesitas, dan tidak terjadi kontraindikasi pada masing-masing obat.
·         Waspada terhadap efek samping
Efek samping yang perlu diwaspadai pada kombinasi obat ini adalah batuk kering dan hipotensi. Perlu diinformasikan kepada pasien bahwa efek samping yang timbul tidak dialami oleh semua orang, namun apabila efek samping tersebut muncul disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Untuk sementara solusi efek samping batuk kering yg disebabkan oleh captopril dapat diatasi dengan penggunaan anti tusiv atau mengganti dengan golongan anti hipertensi yg lain seperti antagonis reseptor blocker. Efek samping hipotensi dapat diatasi dengan selalu mengontrol kondisi tekanan darahnya. Diuretik HCT dapat membuat pasien menjadi lemas ini dapat diatasi dengan memperbanyak asupan makanan yang kaya kalium.
4)      Pemberian informasi kepada pasien
Konseling Informasi Edukasi yang diberikan apoteker adalah mengenai penggunaan obat captopril 2x/hari dengan durasi waktu yang sama misalnya pagi dan malam, untuk hari berikutnya dikonsumsi pada waktu yang sama. Obat ini dikonsumsi dalam keadaan perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam sesudah makan) secara peroral diminum bersama air mineral. Menjelaskan bahwa obat ini memiliki efek samping batuk kering sehingga jika pasien mengalami hal tersebut diharapkan segera berkonsultasi dengan dokter. Apoteker menjelaskan terapi non farmakologi seperti olahraga ringan yang cukup, kurangi konsumsi garam dan alkohol, berhenti merokok, dan menjaga pola hidup. Selain itu pasien dijelaskan mengenai faktor resiko penyebab terjadinya hipertensi dan meminta pasien untuk mengulangi penjelasan yang telah dijelaskan oleh apoteker untuk memastikan bahwa pasien sudah mengerti dengan penjelasan tersebut.
5)      Pilihan obat yang tepat untuk pasien
6)      Monitoring efek pengobatan yang terjadi
Tujuan perawatan antihipertensi adalah untuk menjaga tekanan darah arterial di bawah 140/90 mmHg untuk mencegah morbiditas dan mortalitas cardiovascular. Usaha untuk menurunkan tekanan darah sampai ke tingkat optimal (130/80 mmHg) harus dilakukan, terutama pada pasien dengan diabetes atau gangguan fungsi ginjal.
Pengukuran sendiri atau monitoring tekanan darah ambulatory automatis harus dilakukan untuk mendapatkan kontrol efektif 24 jam. Pembacaan harus dilakukan 2-4 minggu setelah memulai terapi atau ketika membuat perubahan padap terapi. Ketika tingkat tekanan darah yang diinginkan tercapai, pembacaan bisa dievaluasi tiap 3-6 bulan pada pasien asimtomatik.
Harus dilihat riwayat pasien untuk sakit dada, palpitasi, pusing, dispnea, ortopnea, slurred speech, dan kehilangan keseimbangan untuk menaksir kemungkinan komplikasi hipertensi cardiovascular maupun cerebrovascular.
Parameter lain yang digunakan untuk mengukur manfaat terapi termasuk perubahan pada temuan funduscopic, regression hipertropi ventrikel kiri pada ECG atau echocardiogram, resolusi proteinuria, dan perbaikan pada fungsi ginjal.
Kepatuhan pasien dengan regimen terapi harus dilihat secara teratur. Mereka harus ditanyai secara periodik mengenai perubahan pada persepsi terhadap kesehatan mereka, level energi, fungsi fisik, dan kepuasan dengan perawatan. Pasien harus dimonitor secara rutin untuk efek samping obat.
7)      Terapi non farmakologi
Penderita prehipertensi dan hipertensi sebaiknya dianjurkan untuk memodifikasi gaya hidup, termasuk :
·         Penurunan berat badanjika kelebihan berat badan
·         Melakukan diet makanan yang diambil DASH
·         Mengurangi asupan natrium hingga lebih kecil sama dengan 2.4 g/hari (6 g/hari NaCl)
·         Melakukan aktifitas fisikseperti aerobic
·         Mengurangi konsumsi alcohol
·         Menghentikan kebiasaan merokok
Penderita yang didiagnosis hipertensi tahap 1 dan 2 sebaiknya ditempatkan pada terapi modifikasi gaya hidup dan terapi obat secara bersamaan. (ISO Farmakoterapi 2008)

V.                PEMBAHASAN
Pada contoh kasus yang diberikan, pasien berumur 65 tahun dengan jenis kelamin laki-laki mengeluhkan pusing, lemas, dan nyeri di bagian tengkuknya. Setelah dilakukan pemeriksaan pada tekanan darah ternyata diperoleh tekanan darah sebesar 170/110 mmHg. pasien memiliki berat badan 90kg dan tinggi badan 170cm. Hal ini kami simpulkan bahwa pasien mengalami hipertensi dan dinyatakan pasien mengalami obesitas karena IBW yang diperoleh adalah 90 kg dimana idealnya adalah 70 kg. Namun tidak ada pemeriksaan lebih lanjut yang menyatakan pasien memiliki riwayat obesitas, Pasien ternyata juga merupakan perokok aktif dimana mengonsumsi rokok 10 batang per harinya. dalam kasus ini, tidak diberikan adanya pemeriksaan lebih lanjut terhadap pasien selain melakukan pemeriksaan hipertensi.
pada kasus ini menyelesaikan bahwa terapi yang digunakan pada pasien yang terindikasikan mengalami hipertensi digunakan pengobatan secara farmakologi Pada terapi awal pasien diberikan captopril 12.5 mg 2x/hari. Berhubungan dengan berbagai faktor resiko adanya obesitas dan peningkatan tekanan darah menjadi stage III maka terapi tunggal captopril dianggap kurang tepat, sebaiknya terapi captopril tersebut dikombinasikan dengan diuretik golongan Thiazide seperti HCT dengan dosis 50-200 mg/hari diberikan bersama dengan makanan.
Efek samping yang perlu diwaspadai pada kombinasi obat ini adalah batuk kering dan hipotensi. Perlu diinformasikan kepada pasien bahwa efek samping yang timbul tidak dialami oleh semua orang, namun apabila efek samping tersebut muncul disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Untuk sementara solusi efek samping batuk kering yg disebabkan oleh captopril dapat diatasi dengan penggunaan anti tusiv atau mengganti dengan golongan anti hipertensi yg lain seperti antagonis reseptor blocker. Efek samping hipotensi dapat diatasi dengan selalu mengontrol kondisi tekanan darahnya. Diuretik HCT dapat membuat pasien menjadi lemas ini dapat diatasi dengan memperbanyak asupan makanan yang kaya kalium.
Captopril memiliki mekanisme kerja menghambat pembentukan angiotensin I menjadi angiotensin II oleh Angiotensin Converting Enzym. Penghambatan ACE ini mencegah degragadi bradikinin dan menstimulasi sintesis senyawa vasodilator lainnya termasuk prostaglandin E2 dan prostasiklin. Pada kenyataannya, inhibitor ACE menurunkan tekanan darah pada penderita dengan aktivitas renin plasma normal, bradikinin, dan produksi jaringan ACE yang penting dalam hipertensi. Sedangkan diuretik memiliki mekanisme kerja menurunkan tekanan darah terutama dengan mendeplesi simpanan natrium tubuh.
tetapi pemberian diuretik harus memperhatikan terlebih dahulu keadaan patofisiologis dari pasienya karena pengeluaran metabolit obat sepenuhnya di ekskresikan melalui ginjal oleh sebab itu kombinasi sebaiknya diperhatikan terlebih dahulu memperhatikan data lab yang diperoleh,serum kreatinin dan sebagainya agar memudahkan kita dalam memberikan kombinasi pengobatan secara farmakologi yang tepat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terutama pada pemebrian golongan diuretik karena obat tersebut sangat berpengaruh besar terhadap retensi cairan dan kerja dari ginjal. Pada dasarnya pemberian obat pada pasien lanjut usia harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut , Prinsip pemberian obat pada pasien lanjut usia :
a.       Sebaiknya dimulai dengan satu macam obat dengan dosis kecil
b.      Penurunan tekanan darah sebaiknya secara perlahan, untuk penyesuaian autoregulasi guna mempertahankan perfusi ke organ vital.
c.       Regimen obat harus sederhana dan dosis sebaiknya sekali sehari
d.      Antisipasi efek samping obat
e.       Pemantauan tekanan darah sendiri di rumah untuk evaluasi efektifitas pengobatan.

VI.             KESIMPULAN
Pada kasus ini pasien merupakan lansia dan sebagai perokok aktif. Dimana tekanan darahnya termasuk dalam range hipertensi stage 3. Diberikan kombinasi obat antara kaptopril (termasuk golongan ACE inhibitor) dengan hidroklorotiazid (termasuk golongan diuretic tiazid) karena kombinasi keduanya lebih efektif dan mempercepat penurunan tekanan darah.
Pasien juga perlu terapi nonfarmakologi diantaranya dengan mengubah pola hidup/gaya hidup pasien misalnya Mengurangi konsumsi rokok , Mengurangi aktivitas fisik yang berlebih, Diet mengadopsi pola makan DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension) yang kaya akan kalium , Penurunan BB, Diet rendah natrium, Kurangi stress, Mengontrol tekanan darah, Membatasi minum kopi dan Membatasi minum alkohol,gaya hidup pasien yang harus diperhatikan,agar mendukung dalam proses terapi yang di dapatkan.

VII.          DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Mencit. (Online). (Http://id.m.wikipedia.org/wiki/mencit). diakses 20 Oktober 2011 Pukul 20.00 WITA.
Anonim. 2012. MIMS Indonesia: Petunjuk Konsultasi (Edisi 11) .Bhuana Ilmu Populer.
Wijayakusuma, Hembing dan Setiawan Dalimartha, 2003. Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan Darah Tinggi, Jakarta: Penebar Swadaya.
MIMS-Official Drug Reference for Indonesian Medical Proffesion. 111th ed. 2014. Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure in Adults Report From the Panel Members Appointed to the Eighth Joint National Committee (JNC 8)
Sukandar,Elin,Yulianah.,2008. ISO Farmakoterapi. ISFI; Jakarta.
Smeltzer & Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8.   Jakarta: EGC.
Tjay,Hoan,Tan.,2007. Obat-Obat Penting. Gramedia; Jakarta.
Wibowo. (1999). hipertensi. Chicago: makalah.

1 komentar:

  1. thanks senior .. ngebantu banget buat modul kardiovaskuler..

    BalasHapus