LAPORAN
RESMI SKILL LAB
MODUL
ANGINA PEKTORIS
Disusun
oleh :
Faza
Dinazad (312110012)
PRODI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2014
I.
TUJUAN
·
Tujuan
Umum
penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan tentang penyakit jantung koroner
yaitu angina pektoris.
·
Tujuan
khusus dari
makalah ini adalah:
1. Agar mahasiswa/i dapat
mengetahui gejala dari angina pektoris.
2.
Agar
mahasiswa/mahasiswi dapat mengetahui faktor penyebab dan faktor pencetus.
3. Agar mahasiswa/i memahami bagaimana
membuat asuhan keperawatan pada pasien dengan angina pektoris.
II.
LANDASAN
TEORI
Penyakit jantung koroner (PJK)
merupakan kelompok penyakit jantung yang terutama disebabkan penyempitan arteri
koronaria akibat proses aterosklerosis atau spasme koroner, atau kombinasi dari
keduanya. Secara statistik, angka kejadian penyakit jantung koroner di dunia
terus meningkat dari tahun ke tahun, baik di negara berkembang maupun negara
maju. Di Amerika misalnya, sekitar 500.000 orang meninggal akibat penyakit ini
tiap tahunnya. Di Eropa, 40.000 dari 1 juta orang juga menderita penyakit
jantung koroner.
Di Indonesia, penyebab kematian mulai bergeser dari penyakit
infeksi ke penyakit kardiovaskular. Secara keseluruhan, jumlah kematian akibat
PJK di seluruh dunia adalah sekitar 15 juta per tahun atau 30% dari seluruh
kematian dengan berbagai sebab.Manifestasi klinik PJK yang klasik adalah angina
pektoris.
Etiologi
Penyakit Jantung Koroner
Penyakit jantung koroner adalah suatu
kelainan yang disebabkan oleh penyempitan
atau penyumbatan arteri yang mengalirkan darah ke otot
jantung.
Penyakit jantung koroner adalah ketidak
seimbangan antara demand dan supplay atau
kebutuhan dan penyediaan oksigen otot jantung dimana terjadi
kebutuhan yang meningkat atau penyediaan yang menurun, atau
bahkan
gabungan diantara keduanya itu, penyebabnya adalah berbagai
faktor.
Denyut jantung yang meningkat, kekuatan
berkontraksi yang meninggi,
tegangan ventrikel yang meningkat, merupakan beberapa factor
yang
dapat meningkatkan kebutuhan dari otot-otot jantung. Sedangkan
faktor
yang mengganggu penyediaan oksigen antara lain, tekanan darah
koroner
meningkat, yang salah satunya disebabkan oleh artheroskerosis
yang
mempersempit saluran sehingga meningkatkan tekanan, kemudian
gangguan
pada otot regulasi jantung dan lain sebagainya.
Manifestasi
klinis dan penyakit jantung koroner
iskemia mycocard akut, gagal jantung
disritmia atau gangguan irama
jantung dan mati mendadak (Margaton, 1996).
Patofisiologi
Penyakit jantung koroner terjadi bila
ada timbunan (PLAK) yang mengandung
lipoprotein, kolesterol, sisa-sisa jaringan dan terbentuknya
kalsium
pada intima, atau permukana bagian dalam pembuluh darah. Plak
ini
membuat intima menjadi kasar, jaringan akan berkurang oksigen dan
zat
gizi sehingga menimbulkan infark, penyakit jantung koroner
menunjukkan
gejala gizi terjadi infark miokard atau bila terjadi iskemia
miokard
seperti angina pectori.
Kolesterol serum dibawa oleh beberapa
lipoprotein yang diklasifikasikan
menurut densitasnya. Lipoprotein dalam urutan densitas
yang
meningkat adalah kilomikron. VLDL (Very Low Density Lopoprotein).
LDL (low Density Lipoprotein) dan HDL (High Density Lipoprotein)
membawa hampir seluruh kolesterol dan merupakan yang paling
aterojenik. HDL menurunkan resiko penyakit jantung ke hati,
tempat
kolesterol di metabolisme dan di ekskresikan. Orang dewasa dapat
diklasifikasikan
sebagai beresiko penyakit jantung koroner berdasarkan
jumlah
total dan kadar kolesterol LDL-nya (Moore, 1997).
Penyebab
Jantung Koroner
Penyakit jantung yang diakibatkan oleh
penyempitan pembuluh nadi koroner ini
disebut penyakit jantung koroner. Penyempitan dan penyumbatan ini
dapat menghentikan aliran darah ke otot jantung yang sering ditandai
dengan rasa nyeri. Dalam kondisi lebih parah kemampuan
jantung
memompanya darah dapat hilang. Hal ini akan merusak system
golongan
irama jantung dan berakibat dengan kematian (Krisatuti dan
Yenrina,
1999).
Salah satu penyakit jantung koroner
adalah kebiasaan makanmakanan berlemak tinggi
terutama lemak jenuh. Agar lemak mudah masuk dalam
peredarah darah dan diserap tubuh maka lemak harus diubah
oleh
enzim lipase menjadi gliserol. Sebagian sisa lemak akan disimpan di
hati
dan metabolisme menjadi kolesterol pembentuk asam empedu yang
berfungsi
sebagai pencerna lemak, berarti semakin meningkat pula kadar
kolesterol
dalam darah. Penumpukan tersebut dapat menyebabkan (artherosklerosis)
atau penebalan pada pembuluh nadi koroner (arteri koronoria).
Kondisi ini menyebabkan kelenturan
pembuluh nadi menjadi berkurang,
serangan jantung koroner akan lebih mudah terjadi ketika
pembuluh
nadi mengalami penyumbatan ketika itu pula darah yang
membawa
oksigen ke jaringan dinding jantung pun terhenti (Sulistiyani,1998).
Gejala
Jantung Koroner
Penyakit jantung koroner sering ditandai
dengan rasa tidak nyaman atau sesak di
dada, gejala seperti ini hanya dirasakan oleh sepertiga
penderita.
Rasa nyeri terasa pada dada bagian tengah, lalu menyebar
keleher,
dagu dan tangan. Rasa tersebut akan beberapa menit kemudian.
Rasa
nyeri muncul karena jantung kekurangan darah dan supplay
oksigen.
Gejala ini lain menyertai jantung koroner akibat penyempitan
pembuluh
nadi jantung adalah rasa tercekik (angina pectoris). Kondisi ini
timbul
secara tidak terduga dan hanya timbul jika jantung dipaksa bekerja
keras.
Misal fisik dipaksa bekerja keras atau mengalami tekanan
emosional.
Pada usia lanjut gejala serangan jantung
sering tidak disrtai keluhan apapun, sebagian
hanya merasa tidak enak badan. Gejala penyakit jantung
koroner
pada umumnya tidak spesifik untuk didiagnosa angina pectoris
(masa
tercekik). Biasanya diperoleh riwayat penyakit orang bersangkutan,
sedangkan
pemeriksaan fisik kurang menunjukkan data yang akurat. Pada
keadaan
tenang eletro diagram pada orang yang menghidap angina
pectoris
akan terlihat normal pada keadaan istirahat. Sebaliknya menjadi
normal
saat melakukan kerja fisik. Riwayat angina pectoris tidak stabil
lebih
sulit dikendalikan karena terjadi secara tidak terduga kasus ini
menjadi
mudah terdeteksi jika disertai dengan nyeri sangat hebat di dada,
disertai
dengan gejala mual, takut dan merasa sangat tidak sehat.
Berbeda dengan kasus infak miokardia
pada kelainan jantung yang satu ini dapat
diketahui melalui penyimpanan irama jantung saat pemeriksaan
melalui elektro kardiografi dan dikatikan dengan peningkatan
kadar
enzim jantung dalam darah, juga dalam perkembangan penyakit
jantung
koroner biasanya disertai kelainan kadar lemak dan trombosit
darah
penderita yang diikuti oleh kerusakan endoterium dinding pembuluh
nadi
(Krisnatuti dan Yenria, 1999).
Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner
Faktor risiko diartikan sebagai
karakteristik yang berkaitan dengan kejadian suatu
penyakit di atas rata-rata. Faktor risiko mempunyai risiko
penyakit
jantung koroner dalam dua kelompok, yaitu faktor risiko primer dan
sekunder.
1.
Faktor risiko primer
a. Merokok
(1 pak atau lebih dalam sehari)
b. Hipertensi
(diastolik > 90 mmHg ; siastolik > 150 mmHg)
c. Peningkatan
kolesterol plasma (> 240 – 250 mg/dl)
2.
Faktor risiko sekunder
a. Peningkatan
trigliserida plasma
b. Obesitas
c. Diabetes
mellitus
d. Stres
kronik
e. Pil
KB
f. Vasektomi
g. Kurang
aktifitas fisik
h. Keturunan
3.
Hubungan kejadian dengan konsumsi
makanan tertentu
a. Korelasi
positif yaitu : Protein hewani, Kolesterol tinggi, Daging, Lemak total,
Telur,Gula, Kalori total,Lemak hewani
b. Korelasi
negatif yaitu : Serat, Protein nabati
Risiko-risiko tersebut saling
menguatkan, orang yang memiliki tiga faktor risiko
memiliki peluang terserang penyakit jantung enam kali lebih
besar
dibandingkan dengan orang yang hanya memiliki satu faktor risiko.
Sedangkan
risiko seperti genetik, umur dan jenis kalamin susah dikendalikan.
Faktor risiko penyakit jantung berkaitan
dengan diit, bagaimana pengaturan gizi
sangat berperan dalam menekan beberapa faktor primer maupun sekunder
penyakit jantung koroner. Penyakit jantung bersifat multifactorial
(Krisnatih dan Yenrina, 1999).
Asupan Zat Gizi
1.
Karbohidrat
Karbohidrat
memegang peranan penting dalam alam karena merupakan sumber energi utama bagi
manusia dan hewan yang harganya relatif murah. Semua karbohidrat berasal dari
tumbuh-tumbuhan. Produk yang dihasilkan terutama dalam bentuk gula sederhana
yang mudah larut dalam air dan mudah diangkut ke seluruh sel-sel guna penyedia
energi.
Sebagian
dari gula sederhana ini kemudian mengalami polimerisasi dan membentuk
polisakarida. Ada 2 jenis polisakarida tumbuh-tumbuhan, yaitu pati dan non
pati. Pati adalah bentuk simpanan karbohidrat berupa polimer glukosa yang
dihubungkan dengan ikatan glikosidik, seperti beras, gandum, dan jagung serta
umbi-umbian merupakan sumber pati utama di dunia. Polisakarida non pati
merupakan komponen utama serat makanan.
Fungsi
utama karbohidrat adalah menyediakan energi bagi tubuh. Karbohidrat merupakan
sumber utama energi bagi penduduk di seluruh dunia, karena banyak didapat di
alam dan harganya relatif murah. Satu gram karbohidrat menghasilkan 4 kalori,
sebagian karbohidrat di dalam tubuh berada dalam siulasi darah sehingga glukosa
untuk keperluan energi. Sebagian diubah menjadi lemak hati dan jaringan otot,
dan sebagian diubah menjadi lemak untuk kemudian disimpan sebagai cadangan energy
di dalam jaringan lemak.
Makanan
yang terlalu tinggi karbohidrat sederhana berasosiasi dengan hiperlipidemia,
tetapi karbohidrat komplek seperti zat tepung kruang aterogenik dibandingkan
dengan bantuk karbohidrat lainnya (mono dan disakarida).
Kuo
dan Baised melaporkan bahwa penggantian tepung dengan gula pada pasien
hiperlipidemi dapat meningkatkan trigliserida darah, kolesterol dan fosfolipid
yang dapat menyebabkan terjadinya Penyakit Jantung Koroner.(Waspadji,2003)
2.
Protein
Protein
adalah bagian dari semua sel hidup dalam merupakan bagian terbesar tubuh
sesudah air (Sunita Almatsir, 2004).
Protein
sangat dibutuhkan tubuh sebagai zat pembangun, sumber protein berasal dari
sumber hewani maupun nabati. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa protein
nabati dapat mencegah hiperlipidemia. Banyak penyakit dipermaslahankan karena
daging daging atau kaerna diit yang terlalu kaya akan protein, diataranya
penyakit ini adalah nepritis, atherosklerosis dan tekanan darah tinggi
(Sediaoetama, 1987).
Soesirah
Sutardjo dalam bukunya pengaturan gizi untuk kesehatan jantung mengemukakan
bahwa pada penderita kolesterol tinggi dimana protein diberikan campuran antara
protein hewani dan nabati, kemudian diganti dengan protein kedelai sebagai
sumber utama protein, menunjukkan bahwa terjadi penurunan kolesterol darah
sebanyak 20%. Dengan demikian konsumsi protein dapat menurunkan absorbsi
kolesterol
3. Lemak
Lemak makanan
terdiri dari beberapa asam lemak yaitu asam lemak jenuh dan asam lemak tidak
jenuh. Lemak jenuh cenderung menaikkan kadar kolesterol dan trigliserida darah.
bahan makanan yang banyak mengandung lemak jenuh adalah : lemak hewan, lemak
susu, mentega, keju, santan, minyak-minyak ikan. Asam lemak omega 3 dapat
membersihkan plasma dari lipoprotein kilomikron dan kemungkinan juga dan VLDL
(Very Low Density Lipoprotein). Asam lemak omega-3 diduga menurunkan produksi trigliserida
di dalam hati, bagian utama lipida dan protein dalam VLDL. Asam lemak omega-3
dihubungkan dengan pencegahan penyakit jantung koroner dengan artritis (Sunita
Almatsir, 2004).
Kolesterol
Kolesterol merupakan komponen esensial
membran structural semua sel dan merupakan komponen utama sel otak dan saraf.
Kolesterol dapat membayakan tubuh, kolesterol yang terdapat dalam jumlah
terlalu banyak di dalam darah dapat membentuk endapan pada dinding pembuluh darah
sehingga menyebabkan penyempitan yang dinamakan atherosklerosis. Bila
penyempitan terjadi pada pembuluh darah jantung dapat menyebabkan penyakit
jantung koroner dan bila pada pembuluh darah otak penyakit
serebrovaskuler.(Almatsir ,2004)
Trigliserida
Jenis lemak dalam darah dapat
mempengaruhi kadar kolesterol dalam darah. Di dalam makanan terdapat dua macam
lemak yaitu lemak jenuh dan lemak tidak jenuh. Pada lemak jenih dapat menaikkan
kadar kolesteol dan trigliseida darah. Hal ini akan mempengaruhi terbentuknya atherosclerosis
yang merupakan perjalanan awal dari penyakit jantung koroner. Sedangkan lemak
tidak jenuh cenderung menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida darah (
Purwati, Samilar Rahayu, 1998)
Keterkaitan trigliserida dengan penyakit
jantung koroner adalah peningkatan terhadap hipertrigliserida. Trigliserida
bersikulasi dalam darah bersama-sama dengan VDDL yang bersifat aterogenik,
disamping itu trigliseida membantu trombosit arteri koroner, mendorong jantung koroner,
juga hiperglidemia mempengaruhi peningkatan insulin dalam darah, menambah
factor resiko pembentukan atherosclerosis Didalam tubuh sebagian lemak berupa
trigliserida yang terbagi3 asam lemak yang tergabung menjadi molekul glycerol.
Dimana sangan berbeda dengan kolesterol seperti kolesterol trigliserida yang
merupakan komponen dari darah baik dating dari diit atau dihasilkan oleh tubuh.
Sebagian besar lemak dimakan berbentuk trigliserida . makanan yang mengandung
akan meningkatkan trigliserida dalam darah dan cenderung meningkatkan kadar
kolesterol. Lemak yang berasal dari buah-buahan sepert kelapa, urian, dan
alpukat, alpukat tidak mengandung kolesterol tetapi kadar trigliserida tinggi.
Penelitian para ahli menegaskan bahwa peningkatan kadar trigliserida dalam
darah merupakan salah satu factor resiko penyakit jantung koroner (Suharto,2004)
Di dalam makanan terdapat dua macam
lemak yaitu lemak jenuh dan lemak tidak jenuh. Lemak jenuh menaikkan kadar
kolesterol dan trigliserida darah. Hal ini akan mempengaruhi terbentuknya atherosklerosis
yang merupakan perjalanan awal dari penyakit jantung koroner. Sedangkan lemak
tidak jenuh cenderung menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida darah
(Purwati, Samiliar Rahayu, 1998).
4. Vitamin
a.
Vitamin A
Vitamin
A berfungsi dalam perlihatan normal pada cahaya remang. Vitamin A terdapat di
dalam pangan hewani, sedangkan karotein terutama di dalam pangan nabati. Sumber
vitamin A adalah hati, kuning telur, susu dan mentega, sedangkan sumber karoten
adalah sayuran berwarna hijau tua serta sayuran dan buah-buahan yang berwarna
kuning jingga. Seperti daun singkong, daun kacang, kangkung, bayam, kacang
panjang, buncis, wortel, tomat, jagung kuning, pepaya, mangga, dll.
Peran
vitamin A dalam menurunkan faktor risiko dijumpai pada gugus hidroksinya, yang
berfungsi dalam mencegah teroksidasinya lemak tak jenuh ganda. Dengan demikian
lemak tak jenuh ganda tetap dipertahanan, berpengaruh dalam menurunkan kadar
kolesterol darah.
Kinley
dan Krause, dalam percobaan menemukan pengurangan kadar kolesterol dalam darah
pada pasien atherosklerosis bila diberikan vitamin A.
b.
Vitamin C
Sumber
vitamin C banyak terdapat pada buah-buahan dan sayuran. Fungsi vitamin C
sebagai koenzim atau kofaktor. Definisi vitamin A merangsang gladula adenalin
penghasil adrenalin dan hormone kartikosteroid, mengakibatkan penurunan kadar
vitamin C di dalam kelenjar tersebut. Demikian pula kadar kolesterol di dalam
darah akan mengalami peningaktan. Diduga vitamin C mempunyai keterkatian dengan
hormone kartikosteroid yang mendorong kenaikan kadar kolesterol, sehingga bila ada
gangguan kekurangan vitamin C dalam tubuh akan mengakibatkan peningkatan kadar
kolesterol di dalam darah. Faktor di atas memegang perananan penting dalam
penurunan faktor risiko dalam pembentukan atherosklerosis oleh vitamin C
(Waspadji, 2003).
5. Calsium
Sumber
kalsium utama adalah susu dan hasil susu, seperti keju, ikan dimakan dengan
tulang, termasuk ikan kering merupakan sumber kalsium yang baik, serealia,
kacang-kacangan dan hasil kacang-kacangan, tahu dan tempe, dan sayuran hijau
merupakan sumber kalsium yang baik juga.
Menurut
Yacowite dalam bukunya pengkajian status gizi studi epidemiologi mengemukakan
pada penelitiannya mengatakan bahwa pemberian kalsium 2,66 mg/hari dapat
menurunkan kolesterol serum (Waspadji,2003)
Angina pektoris ialah suatu sindroma
klinis di mana didapatkan sakit dada yang timbul pada waktu melakukan aktivitas
karena adanya iskemik miokard. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi > 70%
penyempitan arteri koronaria. Angina pektoris dapat muncul sebagai angina
pektoris stabil (APS, stable angina), dan keadaan ini bisa berkembang menjadi
lebih berat dan menimbulkan sindroma koroner akut (SKA) atau yang dikenal
sebagai serangan jantung mendadak (heart attack) dan bisa menyebabkan kematian.
(American Heart Association (AHA))
Mengingat tingginya angka kematian akibat PJK, maka kami
sebagai mahasiswa/i pembuat makalah ini akan menjelaskan lebih banyak lagi
mengenai Angina Pektoris ini.
ANGINA PEKTORIS
Angina pektoris adalah nyeri dada
yang ditimbukan karena iskemik miokard dan bersifat sementara atau
reversibel. (Dasar-dasar keperawatan kardiotorasik, 1993).
Angina pektoris adalah suatu
sindroma kronis dimana klien mendapat serangan sakit dada yang khas yaitu
seperti ditekan, atau terasa berat di dada yang seringkali menjalar ke lengan
sebelah kiri yang timbul pada waktu aktifitas dan segera hilang bila aktifitas
berhenti. (Prof. Dr. H.M. Sjaifoellah Noer, 1996)
Angina pektoris adalah suatu istilah
yang digunakan untuk menggambarkan jenis rasa tidak nyaman yang biasanya
terletak dalam daerah retrosternum. (Penuntun Praktis Kardiovaskuler)
Angina pektoris
adalah suatu sindroma klinis yang ditandai dengan episode atau paroksismal
nyeri atau perasaan tertekan di dada depan. (Brunner dan Suddart, 1997.
Angina pectoris ialah keadaan di
mana klien merasa sakit dada yang kuat akibat dari penyakit jantung ischemic
iaitu kekurangan pengaliran darah dan oksigen ke myocardium jantung. (Angina
bermaksud tercekik. Pectoris bermaksud dada).
Angina biasanya terjadi waktu latihan, stres emosi yang
parah, atau setelah makan yang berat. Selama periode-periode ini, otot jantung
menuntut lebih banyak oksigen darah daripada arteri-arteri yang menyempit dapat
berikan. Angina secara khas berlangsung dari 1 sampai 15 menit dan dibebaskan
dengan istirahat atau dengan menempatkan tablet nitroglycerin dibawah lidah.
Nitroglycerin mengendurkan pembuluh-pembuluh darah dan menurunkan tekanan
darah. Keduanya istirahat dan nitroglycerin mengurangi permintaan otot jantung
untuk oksigen, jadi membebaskan angina.
Etiologi
a. Faktor penyebab Angina Pektoris
antara lain:
·
Suplai
oksigen yang tidak mencukupi ke sel-sel otot-otot jantung dibandingkan
kebutuhan.
·
Ketika
beraktivitas, terutama aktivitas yang berat, beban kerja jantung meningkat.
Otot jantung memompa lebih kuat.
·
Riwayat
merokok (Baik perokok aktif maupun perokok pasif)
·
Angina
disebabkan oleh penurunan aliran darah yang menuju area jantung. Kadang-kadang
, jenis penyakit jantung yang lain atau hipertensi yang tidak terkontrol dapat
menyebabkan angina.
·
Ateriosklerosis
merupakan istilah umum untuk beberapa penyakit,
dimana dinding arteri menjadi lebih tebal dan kurang lentur dimana bahan lemak
terkumpul dibawah lapisan sebelah dalam dari dinding arteri.
·
Spasme
arteri koroner
·
Anemia
berat
·
Artritis
·
Aorta
Insufisiensi
b. Faktor resiko antara lain adalah:
Dapat Diubah (dimodifikasi)
·
Diet
(hiperlipidemia)
·
Rokok
·
Hipertensi
·
Stress
·
Obesitas
·
Kurang
aktifitas
·
Diabetes
Mellitus
·
Pemakaian
kontrasepsi oral
Tidak
dapat diubah
·
Usia
·
Jenis
Kelamin
·
Ras
·
Herediter
c. Faktor pencetus yang dapat
menimbulkan serangan antara lain:
·
Emosi
·
Stress
·
Kerja
fisik terlalu berat
·
Hawa
terlalu panas dan lembab
·
Terlalu
kenyang
·
Banyak
merokok
Patofisiologi
Mekanisme
timbulnya angina pektoris didasarkan pada ketidak adekuatan suplay oksigen ke
sel-sel miokardium yang diakibatkan karena kekakuan arteri dan penyempitan
lumen arteri koroner (ateriosklerosis koroner). Tidak diketahui secara pasti
apa penyebab ateriosklerosis, namun jelas bahwa tidak ada faktor tunggal yang
bertanggungjawab atas perkembangan ateriosklerosis.
Ateriosklerosis
merupakan penyakir arteri koroner yang paling sering ditemukan. Sewaktu beban
kerja suatu jaringan meningkat, maka kebutuhan oksigen juga meningkat. Apabila
kebutuhan meningkat pada jantung yang sehat maka artei koroner berdilatasi dan
megalirkan lebih banyak darah dan oksigen keotot jantung.
Namun
apabila arteri koroner mengalami kekauan atau menyempit akibat ateriosklerosis
dan tidak dapat berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan akan
oksigen, maka terjadi iskemik (kekurangan suplai darah) miokardium.
Angina
Pectoris Adanya endotel yang cedera mengakibatkan hilangnya produksi No (nitrat
Oksida yang berfungsi untuk menghambat berbagai zat yang reaktif. Dengan tidak
adanya fungsi ini dapat menyababkan otot polos berkontraksi dan timbul spasmus
koroner yang memperberat penyempitan lumen karena suplai oksigen ke miokard
berkurang.
Penyempitan
atau blok ini belum menimbulkan gejala yang begitu nampak bila belum mencapai
75 %. Bila penyempitan lebih dari 75 % serta dipicu dengan aktifitas berlebihan
maka suplai darah ke koroner akan berkurang.
Sel-sel
miokardium menggunakan glikogen anaerob untuk memenuhi kebutuhan energi mereka.
Metabolisme ini menghasilkan asam laktat yang menurunkan pH miokardium dan
menimbulkan nyeri. Apabila kenutuhan energi sel-sel jantung berkurang, maka
suplai oksigen menjadi adekuat dan sel-sel otot kembali fosforilasi oksidatif
untuk membentuk energi. Proses ini tidak menghasilkan asam laktat. Dengan hilangnya
asam laktat nyeri akan reda. Sejumlah faktor yang dapat menimbulkan nyeri
angina:
1. Latihan fisik dapat memicu serangan
dengan cara meningkatkan kebutuhan oksigen jantung.
2. Pajanan terhadap dingin dapat
mengakibatkan vasokontriksi dan peningkatan tekanan darah, disertai peningkatan
kebutuhan oksigen.
3. Makan makanan berat akan
meningkatkan aliran darah ke daerah mesentrik untuk pencernaan, sehingga
menurunkan ketersediaan darah unuk supai jantung.
4. Stress atau berbagai emosi akibat
situasi yang menegangkan, menyebabkan frekuensi jantung meningkat, akibat
pelepasan adrenalin dan meningkatnya tekanan darah dengan demikian beban kerja
jantung juga meningkat.
Penimbunan lemak (lipid) dan jaringan fibrous pada dinding
arteri koroner
↓
Penyempitan pembuluh darah koroner
↓
Obstruksi / hambatan aliran darah miokard
↓
Iskemia (berkurangnya kadar oksigen)
↓
Mengubah metabolisme aerobik menjadi an aerobik
↓
Tertimbun asa laktat
↓
Ph sel menurun
↓
Muncul efek hipoksia
↓
Mengganggu fungsi ventrikel kiri
↓
Menurunnya fungsi ventrikel kiri dapat mengurangi curah
jantung dengan berkurangnya jumlah curah jantung sekuncup (jumlah darah yang
dikeluarkan setiap kali jantung berdenyut)
↓
Berkurangnya daya kontraksi dan gangguan gerakan jantung
(heremodinamik)
↓
Tekana jantung kiri, tekanan akhir diastolik ventrikel kiri
dan tekanan dan paru-paru kiri meningkat
↓
Peningkatan ringan tekanan darah dan denyut jantung
↓
Nyeri
Manifestasi Klinis
Iskemia
otot jantung akan memberi nyeri dengan derajat yang bervariasi, mulai dari rasa
tertekan pada dada sampai nyeri hebat yang disertai dengan rasa takut atau rasa
akan menjelang ajal. Nyeri sangat terasa pada di daerah belakang sternum atas
atau sternum ketiga tengah (retrosentral). Meskipun rasa nyeri biasanya
terlokalisasi, namun nyeri tersebut dapat menyebar ke leher, dagu, bahu, dan
aspek dalam ekstremitas atas.
Pasien
biasanya memperlihatkan rasa sesak, tercekik, dengan kualitas yang terus
menerus. Rasa lemah di lengan atas, pergelangan tangan, dan tangan akan
menyertai rasa nyeri. Selama terjadi nyeri fisik, pasien mungkin akan merasa
akan meninggal. Karakteristik utama nyeri tersebut akan berkurang apabila
faktor presipitasinya dihilangkan.
Kualitas
nyeri seperti tertekan benda berat, seperti diperas, terasa panas,
kadang-kadang hanya perasaan tidak enak di dada (chest discomfort).
Pemeriksaan Diagnostik
·
Elektrokardiogram
Gambaran elektrokardiogram (EKG) yang dibuat pada waktu
istirahat dan bukan pada waktu serangan angina seringkali masih normal.
Gambaran EKG kadang-kadang menunjukkan bahwa pasien pernah mendapat infark
miokard pada masa lampau. Kadang-kadang EKG menunjukkan pembesaran ventrikel
kiri pada pasien hipertensi dan angina. Kadang-kadang EKG menunjukkan perubahan
segmen ST dan gelombang T yang tidak khas. Pada waktu serangan angina, EKG akan
menunjukkan adanya depresi segmen ST dan gelombang T menjadi negatif.
·
Foto
Rontgen Dada
Foto rontgen dada seringkali menunjukkan bentuk jantung yang
normal, tetapi pada pasien hipertensi dapat terlihat jantung yang membesar dan
kadang-kadang tampak adanya kalsifikasi arkus aorta.
·
Pemeriksaan
Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak begitu penting dalam
diagnosis angina pectoris. Walaupun demikian untuk menyingkirkan diagnosis
infark miokard jantung akut maka sering dilakukan pemeriksaan enzim CPK, SGOT,
atau LDH. Enzim tersebut akan meninggi pada infark jantung akut sedangkan pada
angina kadarnya masih normal. Pemeriksaan lipid darah seperti kadar kolesterol,
HDL, LDL, dan trigliserida perlu dilakukan untuk menemukan faktor resiko
seperti hiperlipidemia dan pemeriksaan gula darah perlu dilakukan untuk
menemukan diabetes mellitus yang juga merupakan faktor risiko bagi pasien
angina pectoris.
·
Uji
Latihan Jasmani
Karena pada angina pectoris gambaran EKG seringkali masih
normal, maka seringkali perlu dibuat suatu ujian jasmani. Pada uji jasmani
tersebut dibuat EKG pada waktu istirahat lalu pasien disuruh melakukan latihan
dengan alat treadmill atau sepeda ergometer sampai pasien mencapai kecepatan
jantung maksimal atau submaksimal dan selama latihan EKG di monitor demikian
pula setelah selesai EKG terus di monitor. Tes dianggap positif bila didapatkan
depresi segmen ST sebesar 1 mm atau lebih pada waktu latihan atau sesudahnya.
Lebih-lebih bila disamping depresi segmen ST juga timbul rasa sakit dada
seperti pada waktu serangan, maka kemungkinan besar pasien memang menderita
angina pectoris.
Di tempat yang tidak memiliki treadmill, test latihan
jasmani dapat dilakukan dengan cara Master, yaitu latihan dengan naik turun
tangga dan dilakukan pemeriksaan EKG sebelum dan sesudah melakukan latihan
tersebut.
·
Thallium
Exercise Myocardial Imaging
Pemeriksaan ini dilakukan bersama-sama ujian latihan jasmani
dan dapat menambah sensifitas dan spesifitas uji latihan.thallium 201
disuntikkan secara intravena pada puncak latihan, kemudian dilakukan
pemeriksaan scanning jantung segera setelah latihan dihentikan dan diulang
kembali setelah pasien sehat dan kembali normal. Bila ada iskemia maka akan
tampak cold spot pada daerah yang yang menderita iskemia pada waktu latihan dan
menjadi normal setelah pasien istirahat. Pemeriksaan ini juga menunjukkan
bagian otot jantung yang menderita iskemia.
Penatalaksanaan
Tujuan
penatalaksanaan medis angina adalah untuk menurunkan kebutuhan oksigen jantung
dan untuk meningkatkan suplai oksigen. Secara medis tujuan ini dicapai melalui
terapi farmakologi dan kontrol terhadap faktor risiko. Secara bedah tujuan ini
dapat dicapai melalui revaskularisasi suplai darah jantung melalui bedah pintas
arteri koroner atau angiosplasti koroner transluminar perkutan (PCTA =
percutaneous transluminal coronary angioplasty). Biasanya diterapkan kombinasi
antara terapi medis dan pembedahan.
Tiga
teknik utama yang menawarkan penyembuhan bagi klien dengan penyakit arteri
koroner mencakup penggunaan alat intrakoroner untuk meningkatkan aliran darah,
penggunaan laser untuk menguapkan plak dan endarterektomi koroner perkutan
untuk mengangkat obstruksi. Penelitian yang bertujuan untuk membandingkan hasil
akhir yang dicapai oleh salah satu atau seluruh teknik di atas, melalui bedah
pintas koroner dan PTCA sedang dilakukan. Ilmu pengetahuan terus dikembangkan
untuk mengurangi gejala dan kemunduran proses angina yang diderita pasien.
Komplikasi
·
Stres
psikologis
·
Infark
Miokard
·
Aritmia
·
Gagal
jantung
III.
URAIAN
KASUS
NT. Seorang wanita 35
tahun dengan riwayat penyakit arteri koroner datang ke klinik setelah 1,5 tahun
tidak control. Ia menyatakan bahwa biasanya berolahraga jalan santai sekitar 1
km setiap hari sebelum mengalami serangan nyeri dada dan menjadi sesak nafas.
Gejalanya terus memburuk sejak 2 tahun dan nafasnya semakin pendek sehingga
tidak bias lagi memakai sepatunya. Nafsu makannya turun dan sering di perut
serta cepat kenyang.
Riwayat kesehatan dan
hasil pemeriksaan :
Riwayat kesehatan
:
Penyakit arteri koroner
(10 tahun)
Tidak ada riwayat
alergi.
Pengobatan
:
Diltiazem CD 80 mg once daily
Nitroglycerin 0,4 mg sublingual (SL) bila digunakan kemarin
sore)
Vitamin B12 once daily
Multivitamin daily
Riwayat kesehatan keluarga
:
Ayah menderita infrak
miokardial pada usia 53.
Riwayat sosial
:
Menikah 6 anak,
menjalankan bisnis sendiri. Tidak minum alkohol.
Pengujian fisik
:
Tekanan darah 140/120
mmHg. TB=173 cm, BB=72 kg
Hasil lab
:
Hct : 41,1%, WBC : 5,3 x
103/µL (5,3 x 109/L)
Sodium : 132 mEq/L (132 mmol/L) Potassium : 3,2 mEq/L (3,2
mmol/L)
Bicarb : 30 mEq/L (0,8 mmol/L) chloride : 90 mEq/L
(90mmol/L)
Magnesium : 1,5 mEq/L (0,8 mmol/L) SCr : 0,8 mg/dL (71µmol/L)
Alk Phos : 120 IU/L (2 µKat/L)
IV.
PENYELESAIAN
KASUS DENGAN METODE SOAP
1. Penyelesaian
kasus hipertensi dengan metode SOAP (Subjective,
Objective, Assesment, Plan)
a) Subjective
1) Identitas
Pasien
Nama Pasien : NT
Usia : 35 tahun
Jenis Kelamin : perempuan
2) Keluhan
pasien :
·
Mengalami serangan nyeri dada dan menjadi
sesak nafas
·
Nafasnya semakin pendek hingga hanya
mampu berjalan sebentar dan beraktivitas ringan
·
Kakinya bengkak
·
Nafsu makannya turun
·
Sering merasa penuh di perut serta cepat
kenyang
3) Keluhan
Pasien : Nafas pendek, nafsu makan
menurun, perut terasa penuh, cepat kenyang.
4) Riwayat
Keluarga : ayah menderta infark miokardia pada usia 53 thn menikah, 6 anak, bisnis
5) Riwayat
penyakit penderita : Penyakit
arteri koroner 10 tahun, Tidak
ada alergi
6) Riwayat sosial :
sendiri, tidak minum alkohol.
7) Riwayat kesehatan :
Penyakit arteri koroner 10 tahun, tidak ada alergi
8) Perilaku pasien :
olahraga ringan
b) Objective
1) Data
Vital Sign
TB : 173 cm
BB : 72 kg
TD : 140/120 mmHg
2) Data
Laboratorium :
Hct : 41,1%,
WBC : 5,3 x 103/µL (5,3
x 109/L)
Sodium : 132 mEq/L (132
mmol/L)
Potassium : 3,2 mEq/L
(3,2 mmol/L)
Bicarb : 30 mEq/L (0,8
mmol/L)
chloride : 90 mEq/L
(90mmol/L)
Magnesium : 1,5 mEq/L
(0,8 mmol/L)
SCr : 0,8 mg/dL
(71µmol/L)
Alk Phos : 120 IU/L (2
µKat/L)
c) Assesment
1) Problem
Medik
Didalam kasus ini
pasien mempunyai riwayat penyakit jantung koroner.
2) Terapi
yang diperoleh
Terapi yang diperoleh
dari pasien adalah Diltiazem CD 80 mg once daily, Nitroglycerin 0,4 mg
sublingual, Vitamin B12 once daily, dan Multivitamin daily
3) DRP’s
:
·
Over
Dose :
Obat
yang diberikan tidak Over Dose.
·
Under
Dose :
Diltiazem
yang dikonsumsi pasien Under Dose karena dosis diltiazem untuk long acting seharusnya 120-180 mg/hari.
·
Pemilihan
obat tidak tepat :
Pemilihan
obat pada kasus ini tidak
tepat karena diltiazem
menyebabkan udema dan untuk multivitamin dan vitamin b12 akan lebih baik jika direduce
salah satu
·
Adverse
Drug Reaction
Efek
yang ditimbulkan diltiazem pada kasus ini adalah terjadi edema.
·
Interaksi
Obat
Pada
kasus ini tidak terjadi interaksi obat.
·
Obat
Tanpa Indikasi
Pada
kasus ini terjadi interaksi obat.
·
Indikasi
tanpa obat
Tidak
ada indikasi tanpa obat pada kasus ini.
·
Kepatuhan
Pasien
Kepatuhan pasien
terhadap konsumsi obat ini sangat rendah dikarenakan pasien tidak
memeriksakan diri selama 1,5 tahun.
d) Plan
1) Penetapan
tujuan terapi
·
Untuk
melebarkan pembuluh darah koroner
sehingga memperlancar sirkulasi darah dan oksigen
·
menurunkan
angka mortalitas dan morbiditas akibat penyakit jantung koroner.
2) Solusi
dari Problem DRP’s
Dosis obat diltiazem seharusnya
ditingkatkan menjadi 120 mg/hari.
3) Pemilihan
Terapi farmakologi berdasar farmakoterapi rasional (4T1W)
TERAPI FARMAKOLOGI
·
Propanolol 40 mg once daily
·
Nitroglycerin 0,4 mg SL bila perlu
·
Aspirin 75 mg once daily
·
Multivitamin once daily
TERAPI NONFARMAKOLOGI
·
Diet lemak yang tinggi kalori
·
Mengurangi
stress dengan selalu menenangkan pikiran saat bekerja
·
Inaktifitas
fisik dalam sementara waktu
·
Melakukan
medical check-up rutin (TD & BB)
·
Istirahat
yang cukup
Pemilihan
terapi farmakologi berdasarkan farmakoterapi rasional meliputi 4T1W
·
Tepat
Indikasi :
PROPANOLOL
INDIKASI
Untuk hipertensi, ngina pectoris, menurunkan serangan angina pada penderita variant angina.
Untuk hipertensi, ngina pectoris, menurunkan serangan angina pada penderita variant angina.
NITROGLYCERIN
Indikasi:
Untuk mengobati gagal jantung dan angina.
Untuk mengobati gagal jantung dan angina.
ASPIRIN
INDIKASI
Meredakan nyeri ringan sampai sedang, peradangan.
VIT.B12
& MULTIVITAMIN
INDIKASI
Suplemen vitamin mineral untuk pencegahan dan pengobatan
defisiensi multivitamin dan multimineral.
·
Tepat
dosis : Tidak, seharusnya
dosis dinaikkan menjadi 120 mg/hari karena
long acting untuk diltiazem tatapi
nantinya diltiazem akan diganti dengan propanolol.
·
Tepat
obat : tidak tepat, obat diganti
dengan golongan β blocker (propanolol) dan menghentikan
terapi vit.B12 .
·
Tepat
pasien : tepat
karena pasien dengan PJK (penyakit jantung koroner).
·
Waspada
efek samping : Udema dan rasa tak bertenaga akibat penggunaan diltiazem.
Serta konsumsi nitroglycerin SL yang berlebihan akan menyebabkan hipotensi.
V.
PEMBAHASAN
Pada kasus
kardiovaskuler kali ini pasien mempunyai riwayat penyakit arteri koroner selama
10 tahun, tetapi pasien tersebut tidak control ke dokter selama 1,5 tahun.
Pasien tersebut mengeluh mengalami serangan nyeri dada dan menjadi sesak nafas,
gejala tersebut terus memburuh sejak 2 tahun dan nafasnya semakin pendek hingga
hanya mampu berjalan sebentar dan beraktivitas ringan , pasien tersebut juga
mengeluh kakinya bengkak sehingga tidak bisa lagi memakai sepatunya, nafsu
makannya juga turun dan sering merasa penuh di perut serta cepat kenyang.
Dilihat
dari riwayat keluarga pasien tersebut ayahnya mempunyai riwayat infarkmiokard ,
usia pasien tergolong muda dan satu-satunya hal yang menyebabkan pasien dapat
mengalami Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah factor resiko genetic/keturunan
karena dilihat dari life style nya pun pasien tidak mengkonsumsi alcohol.
Riwayat pengobatan diltiazem 80 mg, nitroglycerin 0,4 mg sublingual, vit.B12
dan multivitamin. Dilihat dari keluhan yang dikeluhkan pasien, dapat
disimpulkan bahwa gejala tersebut merupakan efek samping yang ditimbulkan oleh
diltiazem. Hal ini dapat terjadi karena akumulasi atau lamanya pemakaian
diltiazem yang sudah 10 tahun dikonsumsi pasien. untuk menghindari efek samping
yang membuat pasien tidak nyaman maka harus dilakukan penggantian terapi obat.
Akan tetapi penggantian diltiazem membutuhkan adaptasi dengan dilakukannya
penurunan dosis secara bertahap ½ dari dosis sebelumnya, baru kemudian di ganti
dengan obat lain. Obat pengganti yang tepat adalah propanolol yang merupakan
obat antihipertensi golongan β-blocker untuk menghindari efek samping dari
golongan CCBs (Calsium Channel Blockers) yaitu sembelit, mual, sakit kepala, ruam, edema (pembengkakan
kaki-kaki dengan cairan), tekanan darah rendah, keadaan mengantuk, dan kepusingan.
Selain itu, digunakannya propanolol adalah untuk menurunkan tekanan darah
pasien karena berdasarkan vital sign didapatkan pasien dengan hipertensi stage
1 (JNC VII) dan dengan tekanan diastole yang sangat tinggi. Propanolol
merupakan antihipertensiva golongan β-blocker yang awalnya diintroduksikan
sebagai obat angina pectoris dan anti-aritmia (propanolol, 1964). Baru lebih
kurang 10 tahun kemudian, obat ini digunakan sebagai obat hipertensi, yang kini
menjadi penggunaan utamanya.
Dan tidak
ada perubahan untuk terapi nitroglycerin karena disini digunakan hanya bila
perlu untuk mengurangi rasa nyerinya juga. Dan diberikan
antiplatelet jika memungkinkan untuk menunjang kerja propanolol dan
nitroglycerin dalam memperlancar supply darah yang mengangkut oksigen.Untuk vitamin B12 dan multivitamin
sendiri akan lebih baik jika hanya mengkonsumsi multivitamin dan menghentikan
pemberian vitamin B12 tunggal. Hal ini dipertimbangkan sekali agar tidak
memperberat kerja ginjal pasien. Dengan mengkonsumsi multivitamin tubuh akan
mendapatkan antioksidan (vit.A dan vit.C) dan dapat menutupi kekurangan vitamin
dan agar tubuh pasien tidak lemas.
VI.
KESIMPULAN
Pada
kasus ini dapat disimpulkan bahwa rekomendasi obat yang sebelumnya dikonsumsi
oleh pasien tidak tepat dikarenakan setelah pasien mengkonsumsi obat diltiazem
CD 80 mg selama 10 tahun menyebabkan pasien mengalami efek samping yang terjadi
yaitu edema,gangguan pencernaan,sehingga makin memperburuk ke adaan pasien,
oleh karena itu menurut sumber yang kami dapatkan bahwa penggunaan diltiazem
dengan jangka panjang dapat menimbulkan efek samping yang berat seperti yang di
alami oleh ny NT yaitu edema (5- 15 %) medscape
2013. Dari kasus ini maka
penggantian obat diperlukan,dan penggantian obat yang kami rekomendasikan
sebaiknya di ganti dengan golongan obat beta bloker yaitu propanolol sebagai
terapi penggantian pertama untuk mengatasi penyakit PJK dan angina pectoris
dengan cara sebagai vasodilator.dengan
syarat penggatian diltiazem tidak boleh langsung di hentikan karena
kemungkinan dapat memperburuk ke adaan pasien caranya dengan menurunkan ½ dari
dosis diltiazem yang di gunakan kemudian selanjutnya dapat diganti dengan
golongan obat lainya.
VII.
DAFTAR
PUSTAKA
American
Heart Association (AHA)
Chung,
EK, Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler, Jakarta, EGC, 1996
Mary Baradero,
Mary Wilfrid Dayrit, Yakobus Siswadi, 2008, Seri
Asuhan Keperawatan Kilen Gangguan Kardiovaskuler, Jakarta: EGC
Moore,
D. S., and McCabe, G. P. (1999), The Introduction to the Practice of
Statistics (3rd ed.), New York: W. H. Freeman and Company.
Noer,
Sjaifoellah, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta, FKUI, 1996
…….,
Dasar-dasar Keperawatan Kardiotorasik (Kumpulan Bahan Kuliah edisi ketiga),Jakarta
: RS Jantung Harapan Kita, 1993.
Surwono,waspadji.
2003. Ende Diabetes Study: diabetes and its characteristics in rural area of
East Nusa Tenggara : Penerbit UI
Krisnatuti
D, Yenria R., Menyiapkan Makanan Pendamping ASI, 2000
Kartohoesodo, S.
Memelihara Jantung Sehat dan Menjuga Jantung Sakit. Citra Budaya dan Karya
Pembina Bangsa, Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar