Faza Dina Zad

Kamis, 20 Maret 2014

laporan resmi kardiovaskular

LAPORAN RESMI SKILL LAB
MODUL ANGINA PEKTORIS






Disusun oleh :
Faza Dinazad (312110012)



PRODI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2014



I.                   TUJUAN
·         Tujuan  Umum penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan tentang penyakit jantung koroner yaitu angina pektoris.
·         Tujuan khusus dari makalah ini adalah:
1.      Agar  mahasiswa/i dapat mengetahui gejala dari angina pektoris.
2.      Agar mahasiswa/mahasiswi dapat mengetahui faktor penyebab dan faktor pencetus.
3.      Agar mahasiswa/i memahami bagaimana membuat asuhan keperawatan pada pasien dengan angina pektoris.

II.                LANDASAN TEORI
Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan kelompok penyakit jantung yang terutama disebabkan penyempitan arteri koronaria akibat proses aterosklerosis atau spasme koroner, atau kombinasi dari keduanya. Secara statistik, angka kejadian penyakit jantung koroner di dunia terus meningkat dari tahun ke tahun, baik di negara berkembang maupun negara maju. Di Amerika misalnya, sekitar 500.000 orang meninggal akibat penyakit ini tiap tahunnya. Di Eropa, 40.000 dari 1 juta orang juga menderita penyakit jantung koroner.
Di Indonesia, penyebab kematian mulai bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit kardiovaskular. Secara keseluruhan, jumlah kematian akibat PJK di seluruh dunia adalah sekitar 15 juta per tahun atau 30% dari seluruh kematian dengan berbagai sebab.Manifestasi klinik PJK yang klasik adalah angina pektoris.
Etiologi Penyakit Jantung Koroner
Penyakit jantung koroner adalah suatu kelainan yang disebabkan oleh penyempitan atau penyumbatan arteri yang mengalirkan darah ke otot jantung.
Penyakit jantung koroner adalah ketidak seimbangan antara demand dan supplay atau kebutuhan dan penyediaan oksigen otot jantung dimana terjadi kebutuhan yang meningkat atau penyediaan yang menurun, atau bahkan gabungan diantara keduanya itu, penyebabnya adalah berbagai faktor.
Denyut jantung yang meningkat, kekuatan berkontraksi yang meninggi, tegangan ventrikel yang meningkat, merupakan beberapa factor yang dapat meningkatkan kebutuhan dari otot-otot jantung. Sedangkan faktor yang mengganggu penyediaan oksigen antara lain, tekanan darah koroner meningkat, yang salah satunya disebabkan oleh artheroskerosis yang mempersempit saluran sehingga meningkatkan tekanan, kemudian gangguan pada otot regulasi jantung dan lain sebagainya.
Manifestasi klinis dan penyakit jantung koroner
iskemia mycocard akut, gagal jantung disritmia atau gangguan irama jantung dan mati mendadak (Margaton, 1996).
Patofisiologi
Penyakit jantung koroner terjadi bila ada timbunan (PLAK) yang mengandung lipoprotein, kolesterol, sisa-sisa jaringan dan terbentuknya kalsium pada intima, atau permukana bagian dalam pembuluh darah. Plak ini membuat intima menjadi kasar, jaringan akan berkurang oksigen dan zat gizi sehingga menimbulkan infark, penyakit jantung koroner menunjukkan gejala gizi terjadi infark miokard atau bila terjadi iskemia miokard seperti angina pectori.
Kolesterol serum dibawa oleh beberapa lipoprotein yang diklasifikasikan menurut densitasnya. Lipoprotein dalam urutan densitas yang meningkat adalah kilomikron. VLDL (Very Low Density Lopoprotein). LDL (low Density Lipoprotein) dan HDL (High Density Lipoprotein) membawa hampir seluruh kolesterol dan merupakan yang paling aterojenik. HDL menurunkan resiko penyakit jantung ke hati, tempat kolesterol di metabolisme dan di ekskresikan. Orang dewasa dapat diklasifikasikan sebagai beresiko penyakit jantung koroner berdasarkan jumlah total dan kadar kolesterol LDL-nya (Moore, 1997).
Penyebab Jantung Koroner
Penyakit jantung yang diakibatkan oleh penyempitan pembuluh nadi koroner ini disebut penyakit jantung koroner. Penyempitan dan penyumbatan ini dapat menghentikan aliran darah ke otot jantung yang sering ditandai dengan rasa nyeri. Dalam kondisi lebih parah kemampuan jantung memompanya darah dapat hilang. Hal ini akan merusak system golongan irama jantung dan berakibat dengan kematian (Krisatuti dan Yenrina, 1999).
Salah satu penyakit jantung koroner adalah kebiasaan makanmakanan berlemak tinggi terutama lemak jenuh. Agar lemak mudah masuk dalam peredarah darah dan diserap tubuh maka lemak harus diubah oleh enzim lipase menjadi gliserol. Sebagian sisa lemak akan disimpan di hati dan metabolisme menjadi kolesterol pembentuk asam empedu yang berfungsi sebagai pencerna lemak, berarti semakin meningkat pula kadar kolesterol dalam darah. Penumpukan tersebut dapat menyebabkan (artherosklerosis) atau penebalan pada pembuluh nadi koroner (arteri koronoria).
Kondisi ini menyebabkan kelenturan pembuluh nadi menjadi berkurang, serangan jantung koroner akan lebih mudah terjadi ketika pembuluh nadi mengalami penyumbatan ketika itu pula darah yang membawa oksigen ke jaringan dinding jantung pun terhenti (Sulistiyani,1998).
Gejala Jantung Koroner
Penyakit jantung koroner sering ditandai dengan rasa tidak nyaman atau sesak di dada, gejala seperti ini hanya dirasakan oleh sepertiga penderita. Rasa nyeri terasa pada dada bagian tengah, lalu menyebar keleher, dagu dan tangan. Rasa tersebut akan beberapa menit kemudian. Rasa nyeri muncul karena jantung kekurangan darah dan supplay oksigen. Gejala ini lain menyertai jantung koroner akibat penyempitan pembuluh nadi jantung adalah rasa tercekik (angina pectoris). Kondisi ini timbul secara tidak terduga dan hanya timbul jika jantung dipaksa bekerja keras. Misal fisik dipaksa bekerja keras atau mengalami tekanan emosional.
Pada usia lanjut gejala serangan jantung sering tidak disrtai keluhan apapun, sebagian hanya merasa tidak enak badan. Gejala penyakit jantung koroner pada umumnya tidak spesifik untuk didiagnosa angina pectoris (masa tercekik). Biasanya diperoleh riwayat penyakit orang bersangkutan, sedangkan pemeriksaan fisik kurang menunjukkan data yang akurat. Pada keadaan tenang eletro diagram pada orang yang menghidap angina pectoris akan terlihat normal pada keadaan istirahat. Sebaliknya menjadi normal saat melakukan kerja fisik. Riwayat angina pectoris tidak stabil lebih sulit dikendalikan karena terjadi secara tidak terduga kasus ini menjadi mudah terdeteksi jika disertai dengan nyeri sangat hebat di dada, disertai dengan gejala mual, takut dan merasa sangat tidak sehat.
Berbeda dengan kasus infak miokardia pada kelainan jantung yang satu ini dapat diketahui melalui penyimpanan irama jantung saat pemeriksaan melalui elektro kardiografi dan dikatikan dengan peningkatan kadar enzim jantung dalam darah, juga dalam perkembangan penyakit jantung koroner biasanya disertai kelainan kadar lemak dan trombosit darah penderita yang diikuti oleh kerusakan endoterium dinding pembuluh nadi (Krisnatuti dan Yenria, 1999).
Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner
Faktor risiko diartikan sebagai karakteristik yang berkaitan dengan kejadian suatu penyakit di atas rata-rata. Faktor risiko mempunyai risiko penyakit jantung koroner dalam dua kelompok, yaitu faktor risiko primer dan sekunder.
1.      Faktor risiko primer
a.       Merokok (1 pak atau lebih dalam sehari)
b.      Hipertensi (diastolik > 90 mmHg ; siastolik > 150 mmHg)
c.       Peningkatan kolesterol plasma (> 240 – 250 mg/dl)
2.      Faktor risiko sekunder
a.       Peningkatan trigliserida plasma
b.      Obesitas
c.       Diabetes mellitus
d.      Stres kronik
e.       Pil KB
f.       Vasektomi
g.      Kurang aktifitas fisik
h.      Keturunan
3.      Hubungan kejadian dengan konsumsi makanan tertentu
a.       Korelasi positif yaitu : Protein hewani, Kolesterol tinggi, Daging, Lemak total, Telur,Gula, Kalori total,Lemak hewani
b.      Korelasi negatif yaitu : Serat, Protein nabati
Risiko-risiko tersebut saling menguatkan, orang yang memiliki tiga faktor risiko memiliki peluang terserang penyakit jantung enam kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang hanya memiliki satu faktor risiko. Sedangkan risiko seperti genetik, umur dan jenis kalamin susah dikendalikan.
Faktor risiko penyakit jantung berkaitan dengan diit, bagaimana pengaturan gizi sangat berperan dalam menekan beberapa faktor primer maupun sekunder penyakit jantung koroner. Penyakit jantung bersifat multifactorial (Krisnatih dan Yenrina, 1999).
Asupan Zat Gizi
1.      Karbohidrat
Karbohidrat memegang peranan penting dalam alam karena merupakan sumber energi utama bagi manusia dan hewan yang harganya relatif murah. Semua karbohidrat berasal dari tumbuh-tumbuhan. Produk yang dihasilkan terutama dalam bentuk gula sederhana yang mudah larut dalam air dan mudah diangkut ke seluruh sel-sel guna penyedia energi.
Sebagian dari gula sederhana ini kemudian mengalami polimerisasi dan membentuk polisakarida. Ada 2 jenis polisakarida tumbuh-tumbuhan, yaitu pati dan non pati. Pati adalah bentuk simpanan karbohidrat berupa polimer glukosa yang dihubungkan dengan ikatan glikosidik, seperti beras, gandum, dan jagung serta umbi-umbian merupakan sumber pati utama di dunia. Polisakarida non pati merupakan komponen utama serat makanan.
Fungsi utama karbohidrat adalah menyediakan energi bagi tubuh. Karbohidrat merupakan sumber utama energi bagi penduduk di seluruh dunia, karena banyak didapat di alam dan harganya relatif murah. Satu gram karbohidrat menghasilkan 4 kalori, sebagian karbohidrat di dalam tubuh berada dalam siulasi darah sehingga glukosa untuk keperluan energi. Sebagian diubah menjadi lemak hati dan jaringan otot, dan sebagian diubah menjadi lemak untuk kemudian disimpan sebagai cadangan energy di dalam jaringan lemak.
Makanan yang terlalu tinggi karbohidrat sederhana berasosiasi dengan hiperlipidemia, tetapi karbohidrat komplek seperti zat tepung kruang aterogenik dibandingkan dengan bantuk karbohidrat lainnya (mono dan disakarida).
Kuo dan Baised melaporkan bahwa penggantian tepung dengan gula pada pasien hiperlipidemi dapat meningkatkan trigliserida darah, kolesterol dan fosfolipid yang dapat menyebabkan terjadinya Penyakit Jantung Koroner.(Waspadji,2003)
2.      Protein
Protein adalah bagian dari semua sel hidup dalam merupakan bagian terbesar tubuh sesudah air (Sunita Almatsir, 2004).
Protein sangat dibutuhkan tubuh sebagai zat pembangun, sumber protein berasal dari sumber hewani maupun nabati. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa protein nabati dapat mencegah hiperlipidemia. Banyak penyakit dipermaslahankan karena daging daging atau kaerna diit yang terlalu kaya akan protein, diataranya penyakit ini adalah nepritis, atherosklerosis dan tekanan darah tinggi (Sediaoetama, 1987).
Soesirah Sutardjo dalam bukunya pengaturan gizi untuk kesehatan jantung mengemukakan bahwa pada penderita kolesterol tinggi dimana protein diberikan campuran antara protein hewani dan nabati, kemudian diganti dengan protein kedelai sebagai sumber utama protein, menunjukkan bahwa terjadi penurunan kolesterol darah sebanyak 20%. Dengan demikian konsumsi protein dapat menurunkan absorbsi kolesterol
3.      Lemak
Lemak makanan terdiri dari beberapa asam lemak yaitu asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Lemak jenuh cenderung menaikkan kadar kolesterol dan trigliserida darah. bahan makanan yang banyak mengandung lemak jenuh adalah : lemak hewan, lemak susu, mentega, keju, santan, minyak-minyak ikan. Asam lemak omega 3 dapat membersihkan plasma dari lipoprotein kilomikron dan kemungkinan juga dan VLDL (Very Low Density Lipoprotein). Asam lemak omega-3 diduga menurunkan produksi trigliserida di dalam hati, bagian utama lipida dan protein dalam VLDL. Asam lemak omega-3 dihubungkan dengan pencegahan penyakit jantung koroner dengan artritis (Sunita Almatsir, 2004).
Kolesterol
Kolesterol merupakan komponen esensial membran structural semua sel dan merupakan komponen utama sel otak dan saraf. Kolesterol dapat membayakan tubuh, kolesterol yang terdapat dalam jumlah terlalu banyak di dalam darah dapat membentuk endapan pada dinding pembuluh darah sehingga menyebabkan penyempitan yang dinamakan atherosklerosis. Bila penyempitan terjadi pada pembuluh darah jantung dapat menyebabkan penyakit jantung koroner dan bila pada pembuluh darah otak penyakit serebrovaskuler.(Almatsir ,2004)
Trigliserida
Jenis lemak dalam darah dapat mempengaruhi kadar kolesterol dalam darah. Di dalam makanan terdapat dua macam lemak yaitu lemak jenuh dan lemak tidak jenuh. Pada lemak jenih dapat menaikkan kadar kolesteol dan trigliseida darah. Hal ini akan mempengaruhi terbentuknya atherosclerosis yang merupakan perjalanan awal dari penyakit jantung koroner. Sedangkan lemak tidak jenuh cenderung menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida darah ( Purwati, Samilar Rahayu, 1998)
Keterkaitan trigliserida dengan penyakit jantung koroner adalah peningkatan terhadap hipertrigliserida. Trigliserida bersikulasi dalam darah bersama-sama dengan VDDL yang bersifat aterogenik, disamping itu trigliseida membantu trombosit arteri koroner, mendorong jantung koroner, juga hiperglidemia mempengaruhi peningkatan insulin dalam darah, menambah factor resiko pembentukan atherosclerosis Didalam tubuh sebagian lemak berupa trigliserida yang terbagi3 asam lemak yang tergabung menjadi molekul glycerol. Dimana sangan berbeda dengan kolesterol seperti kolesterol trigliserida yang merupakan komponen dari darah baik dating dari diit atau dihasilkan oleh tubuh. Sebagian besar lemak dimakan berbentuk trigliserida . makanan yang mengandung akan meningkatkan trigliserida dalam darah dan cenderung meningkatkan kadar kolesterol. Lemak yang berasal dari buah-buahan sepert kelapa, urian, dan alpukat, alpukat tidak mengandung kolesterol tetapi kadar trigliserida tinggi. Penelitian para ahli menegaskan bahwa peningkatan kadar trigliserida dalam darah merupakan salah satu factor resiko penyakit jantung koroner (Suharto,2004)
Di dalam makanan terdapat dua macam lemak yaitu lemak jenuh dan lemak tidak jenuh. Lemak jenuh menaikkan kadar kolesterol dan trigliserida darah. Hal ini akan mempengaruhi terbentuknya atherosklerosis yang merupakan perjalanan awal dari penyakit jantung koroner. Sedangkan lemak tidak jenuh cenderung menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida darah (Purwati, Samiliar Rahayu, 1998).
4.      Vitamin
a.      Vitamin A
Vitamin A berfungsi dalam perlihatan normal pada cahaya remang. Vitamin A terdapat di dalam pangan hewani, sedangkan karotein terutama di dalam pangan nabati. Sumber vitamin A adalah hati, kuning telur, susu dan mentega, sedangkan sumber karoten adalah sayuran berwarna hijau tua serta sayuran dan buah-buahan yang berwarna kuning jingga. Seperti daun singkong, daun kacang, kangkung, bayam, kacang panjang, buncis, wortel, tomat, jagung kuning, pepaya, mangga, dll.
Peran vitamin A dalam menurunkan faktor risiko dijumpai pada gugus hidroksinya, yang berfungsi dalam mencegah teroksidasinya lemak tak jenuh ganda. Dengan demikian lemak tak jenuh ganda tetap dipertahanan, berpengaruh dalam menurunkan kadar kolesterol darah.
Kinley dan Krause, dalam percobaan menemukan pengurangan kadar kolesterol dalam darah pada pasien atherosklerosis bila diberikan vitamin A.
b.      Vitamin C
Sumber vitamin C banyak terdapat pada buah-buahan dan sayuran. Fungsi vitamin C sebagai koenzim atau kofaktor. Definisi vitamin A merangsang gladula adenalin penghasil adrenalin dan hormone kartikosteroid, mengakibatkan penurunan kadar vitamin C di dalam kelenjar tersebut. Demikian pula kadar kolesterol di dalam darah akan mengalami peningaktan. Diduga vitamin C mempunyai keterkatian dengan hormone kartikosteroid yang mendorong kenaikan kadar kolesterol, sehingga bila ada gangguan kekurangan vitamin C dalam tubuh akan mengakibatkan peningkatan kadar kolesterol di dalam darah. Faktor di atas memegang perananan penting dalam penurunan faktor risiko dalam pembentukan atherosklerosis oleh vitamin C (Waspadji, 2003).
5.      Calsium
Sumber kalsium utama adalah susu dan hasil susu, seperti keju, ikan dimakan dengan tulang, termasuk ikan kering merupakan sumber kalsium yang baik, serealia, kacang-kacangan dan hasil kacang-kacangan, tahu dan tempe, dan sayuran hijau merupakan sumber kalsium yang baik juga.
Menurut Yacowite dalam bukunya pengkajian status gizi studi epidemiologi mengemukakan pada penelitiannya mengatakan bahwa pemberian kalsium 2,66 mg/hari dapat menurunkan kolesterol serum (Waspadji,2003)

Angina pektoris ialah suatu sindroma klinis di mana didapatkan sakit dada yang timbul pada waktu melakukan aktivitas karena adanya iskemik miokard. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi > 70% penyempitan arteri koronaria. Angina pektoris dapat muncul sebagai angina pektoris stabil (APS, stable angina), dan keadaan ini bisa berkembang menjadi lebih berat dan menimbulkan sindroma koroner akut (SKA) atau yang dikenal sebagai serangan jantung mendadak (heart attack) dan bisa menyebabkan kematian. (American Heart Association (AHA))
Mengingat tingginya angka kematian akibat PJK, maka kami sebagai mahasiswa/i pembuat makalah ini akan menjelaskan lebih banyak lagi mengenai Angina Pektoris ini.
ANGINA PEKTORIS
Angina pektoris adalah nyeri dada yang ditimbukan karena iskemik miokard dan bersifat sementara atau reversibel.  (Dasar-dasar keperawatan kardiotorasik, 1993).
Angina pektoris adalah suatu sindroma kronis dimana klien mendapat serangan sakit dada yang khas yaitu seperti ditekan, atau terasa berat di dada yang seringkali menjalar ke lengan sebelah kiri yang timbul pada waktu aktifitas dan segera hilang bila aktifitas berhenti.  (Prof. Dr. H.M. Sjaifoellah Noer, 1996)
Angina pektoris adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis rasa tidak nyaman yang biasanya terletak dalam daerah retrosternum. (Penuntun Praktis Kardiovaskuler)
Angina pektoris adalah suatu sindroma klinis yang ditandai dengan episode atau paroksismal nyeri atau perasaan tertekan di dada depan. (Brunner dan Suddart, 1997.
Angina pectoris ialah keadaan di mana klien merasa sakit dada yang kuat akibat dari penyakit jantung ischemic iaitu kekurangan pengaliran darah dan oksigen ke myocardium jantung. (Angina bermaksud tercekik. Pectoris bermaksud dada).
Angina biasanya terjadi waktu latihan, stres emosi yang parah, atau setelah makan yang berat. Selama periode-periode ini, otot jantung menuntut lebih banyak oksigen darah daripada arteri-arteri yang menyempit dapat berikan. Angina secara khas berlangsung dari 1 sampai 15 menit dan dibebaskan dengan istirahat atau dengan menempatkan tablet nitroglycerin dibawah lidah. Nitroglycerin mengendurkan pembuluh-pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah. Keduanya istirahat dan nitroglycerin mengurangi permintaan otot jantung untuk oksigen, jadi membebaskan angina.
Etiologi
a.      Faktor penyebab Angina Pektoris antara lain:
·         Suplai oksigen yang tidak mencukupi ke sel-sel otot-otot jantung dibandingkan kebutuhan.
·         Ketika beraktivitas, terutama aktivitas yang berat, beban kerja jantung meningkat. Otot jantung memompa lebih kuat.
·         Riwayat merokok (Baik perokok aktif maupun perokok pasif)
·         Angina disebabkan oleh penurunan aliran darah yang menuju area jantung. Kadang-kadang , jenis penyakit jantung yang lain atau hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan angina.
·         Ateriosklerosis merupakan istilah umum untuk beberapa penyakit, dimana dinding arteri menjadi lebih tebal dan kurang lentur dimana bahan lemak terkumpul dibawah lapisan sebelah dalam dari dinding arteri.
·         Spasme arteri koroner
·         Anemia berat
·         Artritis
·         Aorta Insufisiensi
b.      Faktor resiko antara lain adalah:
Dapat Diubah (dimodifikasi)
·         Diet (hiperlipidemia)
·         Rokok
·         Hipertensi
·         Stress
·         Obesitas
·         Kurang aktifitas
·         Diabetes Mellitus
·         Pemakaian kontrasepsi oral
Tidak dapat diubah
·         Usia
·         Jenis Kelamin
·         Ras
·         Herediter
c.       Faktor pencetus yang dapat menimbulkan serangan antara lain:
·         Emosi
·         Stress
·         Kerja fisik terlalu berat
·         Hawa terlalu panas dan lembab
·         Terlalu kenyang
·         Banyak merokok
                 Patofisiologi
        Mekanisme timbulnya angina pektoris didasarkan pada ketidak adekuatan suplay oksigen ke sel-sel miokardium yang diakibatkan karena kekakuan arteri dan penyempitan lumen arteri koroner (ateriosklerosis koroner). Tidak diketahui secara pasti apa penyebab ateriosklerosis, namun jelas bahwa tidak ada faktor tunggal yang bertanggungjawab atas perkembangan ateriosklerosis.
        Ateriosklerosis merupakan penyakir arteri koroner yang paling sering ditemukan. Sewaktu beban kerja suatu jaringan meningkat, maka kebutuhan oksigen juga meningkat. Apabila kebutuhan meningkat pada jantung yang sehat maka artei koroner berdilatasi dan megalirkan lebih banyak darah dan oksigen keotot jantung.
        Namun apabila arteri koroner mengalami kekauan atau menyempit akibat ateriosklerosis dan tidak dapat berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka terjadi iskemik (kekurangan suplai darah) miokardium.
        Angina Pectoris Adanya endotel yang cedera mengakibatkan hilangnya produksi No (nitrat Oksida yang berfungsi untuk menghambat berbagai zat yang reaktif. Dengan tidak adanya fungsi ini dapat menyababkan otot polos berkontraksi dan timbul spasmus koroner yang memperberat penyempitan lumen karena suplai oksigen ke miokard berkurang.
        Penyempitan atau blok ini belum menimbulkan gejala yang begitu nampak bila belum mencapai 75 %. Bila penyempitan lebih dari 75 % serta dipicu dengan aktifitas berlebihan maka suplai darah ke koroner akan berkurang.
        Sel-sel miokardium menggunakan glikogen anaerob untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Metabolisme ini menghasilkan asam laktat yang menurunkan pH miokardium dan menimbulkan nyeri. Apabila kenutuhan energi sel-sel jantung berkurang, maka suplai oksigen menjadi adekuat dan sel-sel otot kembali fosforilasi oksidatif untuk membentuk energi. Proses ini tidak menghasilkan asam laktat. Dengan hilangnya asam laktat nyeri akan reda. Sejumlah faktor yang dapat menimbulkan nyeri angina:
1.      Latihan fisik dapat memicu serangan dengan cara meningkatkan kebutuhan oksigen jantung.
2.      Pajanan terhadap dingin dapat mengakibatkan vasokontriksi dan peningkatan tekanan darah, disertai peningkatan kebutuhan oksigen.
3.      Makan makanan berat akan meningkatkan aliran darah ke daerah mesentrik untuk pencernaan, sehingga menurunkan ketersediaan darah unuk supai jantung.
4.      Stress atau berbagai emosi akibat situasi yang menegangkan, menyebabkan frekuensi jantung meningkat, akibat pelepasan adrenalin dan meningkatnya tekanan darah dengan demikian beban kerja jantung juga meningkat.

Penimbunan lemak (lipid) dan jaringan fibrous pada dinding arteri koroner
Penyempitan pembuluh darah koroner
Obstruksi / hambatan aliran darah miokard
Iskemia (berkurangnya kadar oksigen)
Mengubah metabolisme aerobik menjadi an aerobik
Tertimbun asa laktat
Ph sel menurun
Muncul efek hipoksia
Mengganggu fungsi ventrikel kiri
Menurunnya fungsi ventrikel kiri dapat mengurangi curah jantung dengan berkurangnya jumlah curah jantung sekuncup (jumlah darah yang dikeluarkan setiap kali jantung berdenyut)
Berkurangnya daya kontraksi dan gangguan gerakan jantung (heremodinamik)
Tekana jantung kiri, tekanan akhir diastolik ventrikel kiri dan tekanan dan paru-paru kiri meningkat
Peningkatan ringan tekanan darah dan denyut jantung
Nyeri

            Manifestasi Klinis
Iskemia otot jantung akan memberi nyeri dengan derajat yang bervariasi, mulai dari rasa tertekan pada dada sampai nyeri hebat yang disertai dengan rasa takut atau rasa akan menjelang ajal. Nyeri sangat terasa pada di daerah belakang sternum atas atau sternum ketiga tengah (retrosentral). Meskipun rasa nyeri biasanya terlokalisasi, namun nyeri tersebut dapat menyebar ke leher, dagu, bahu, dan aspek dalam ekstremitas atas.
Pasien biasanya memperlihatkan rasa sesak, tercekik, dengan kualitas yang terus menerus. Rasa lemah di lengan atas, pergelangan tangan, dan tangan akan menyertai rasa nyeri. Selama terjadi nyeri fisik, pasien mungkin akan merasa akan meninggal. Karakteristik utama nyeri tersebut akan berkurang apabila faktor presipitasinya dihilangkan.
Kualitas nyeri seperti tertekan benda berat, seperti diperas, terasa panas, kadang-kadang hanya perasaan tidak enak di dada (chest discomfort).

Pemeriksaan Diagnostik
·         Elektrokardiogram
Gambaran elektrokardiogram (EKG) yang dibuat pada waktu istirahat dan bukan pada waktu serangan angina seringkali masih normal. Gambaran EKG kadang-kadang menunjukkan bahwa pasien pernah mendapat infark miokard pada masa lampau. Kadang-kadang EKG menunjukkan pembesaran ventrikel kiri pada pasien hipertensi dan angina. Kadang-kadang EKG menunjukkan perubahan segmen ST dan gelombang T yang tidak khas. Pada waktu serangan angina, EKG akan menunjukkan adanya depresi segmen ST dan gelombang T menjadi negatif.
·         Foto Rontgen Dada
Foto rontgen dada seringkali menunjukkan bentuk jantung yang normal, tetapi pada pasien hipertensi dapat terlihat jantung yang membesar dan kadang-kadang tampak adanya kalsifikasi arkus aorta.
·         Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak begitu penting dalam diagnosis angina pectoris. Walaupun demikian untuk menyingkirkan diagnosis infark miokard jantung akut maka sering dilakukan pemeriksaan enzim CPK, SGOT, atau LDH. Enzim tersebut akan meninggi pada infark jantung akut sedangkan pada angina kadarnya masih normal. Pemeriksaan lipid darah seperti kadar kolesterol, HDL, LDL, dan trigliserida perlu dilakukan untuk menemukan faktor resiko seperti hiperlipidemia dan pemeriksaan gula darah perlu dilakukan untuk menemukan diabetes mellitus yang juga merupakan faktor risiko bagi pasien angina pectoris.
·         Uji Latihan Jasmani
Karena pada angina pectoris gambaran EKG seringkali masih normal, maka seringkali perlu dibuat suatu ujian jasmani. Pada uji jasmani tersebut dibuat EKG pada waktu istirahat lalu pasien disuruh melakukan latihan dengan alat treadmill atau sepeda ergometer sampai pasien mencapai kecepatan jantung maksimal atau submaksimal dan selama latihan EKG di monitor demikian pula setelah selesai EKG terus di monitor. Tes dianggap positif bila didapatkan depresi segmen ST sebesar 1 mm atau lebih pada waktu latihan atau sesudahnya. Lebih-lebih bila disamping depresi segmen ST juga timbul rasa sakit dada seperti pada waktu serangan, maka kemungkinan besar pasien memang menderita angina pectoris.
Di tempat yang tidak memiliki treadmill, test latihan jasmani dapat dilakukan dengan cara Master, yaitu latihan dengan naik turun tangga dan dilakukan pemeriksaan EKG sebelum dan sesudah melakukan latihan tersebut.
·         Thallium Exercise Myocardial Imaging
Pemeriksaan ini dilakukan bersama-sama ujian latihan jasmani dan dapat menambah sensifitas dan spesifitas uji latihan.thallium 201 disuntikkan secara intravena pada puncak latihan, kemudian dilakukan pemeriksaan scanning jantung segera setelah latihan dihentikan dan diulang kembali setelah pasien sehat dan kembali normal. Bila ada iskemia maka akan tampak cold spot pada daerah yang yang menderita iskemia pada waktu latihan dan menjadi normal setelah pasien istirahat. Pemeriksaan ini juga menunjukkan bagian otot jantung yang menderita iskemia.

Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan medis angina adalah untuk menurunkan kebutuhan oksigen jantung dan untuk meningkatkan suplai oksigen. Secara medis tujuan ini dicapai melalui terapi farmakologi dan kontrol terhadap faktor risiko. Secara bedah tujuan ini dapat dicapai melalui revaskularisasi suplai darah jantung melalui bedah pintas arteri koroner atau angiosplasti koroner transluminar perkutan (PCTA = percutaneous transluminal coronary angioplasty). Biasanya diterapkan kombinasi antara terapi medis dan pembedahan.
Tiga teknik utama yang menawarkan penyembuhan bagi klien dengan penyakit arteri koroner mencakup penggunaan alat intrakoroner untuk meningkatkan aliran darah, penggunaan laser untuk menguapkan plak dan endarterektomi koroner perkutan untuk mengangkat obstruksi. Penelitian yang bertujuan untuk membandingkan hasil akhir yang dicapai oleh salah satu atau seluruh teknik di atas, melalui bedah pintas koroner dan PTCA sedang dilakukan. Ilmu pengetahuan terus dikembangkan untuk mengurangi gejala dan kemunduran proses angina yang diderita pasien.

Komplikasi
·         Stres psikologis
·         Infark Miokard
·         Aritmia
·         Gagal jantung

III.             URAIAN KASUS
NT. Seorang wanita 35 tahun dengan riwayat penyakit arteri koroner datang ke klinik setelah 1,5 tahun tidak control. Ia menyatakan bahwa biasanya berolahraga jalan santai sekitar 1 km setiap hari sebelum mengalami serangan nyeri dada dan menjadi sesak nafas. Gejalanya terus memburuk sejak 2 tahun dan nafasnya semakin pendek sehingga tidak bias lagi memakai sepatunya. Nafsu makannya turun dan sering di perut serta cepat kenyang.
Riwayat kesehatan dan hasil pemeriksaan :
Riwayat kesehatan :
Penyakit arteri koroner (10 tahun)
Tidak ada riwayat alergi.

Pengobatan :
      Diltiazem CD 80 mg once daily
      Nitroglycerin 0,4 mg sublingual (SL) bila digunakan kemarin sore)
      Vitamin B12 once daily
      Multivitamin daily

Riwayat kesehatan keluarga :
Ayah menderita infrak miokardial pada usia 53.
Riwayat sosial :
Menikah 6 anak, menjalankan bisnis sendiri. Tidak minum alkohol.
Pengujian fisik :
Tekanan darah 140/120 mmHg. TB=173 cm, BB=72 kg
Hasil lab :
Hct : 41,1%,                                                          WBC : 5,3 x 103/µL (5,3 x 109/L)
Sodium : 132 mEq/L (132 mmol/L)                      Potassium : 3,2 mEq/L (3,2 mmol/L)
Bicarb : 30 mEq/L (0,8 mmol/L)                           chloride : 90 mEq/L (90mmol/L)
Magnesium : 1,5 mEq/L (0,8 mmol/L)                  SCr : 0,8 mg/dL (71µmol/L)
Alk Phos : 120 IU/L (2 µKat/L)

IV.             PENYELESAIAN KASUS DENGAN METODE SOAP
1.      Penyelesaian kasus hipertensi dengan metode SOAP (Subjective, Objective, Assesment, Plan)
a)      Subjective
1)      Identitas Pasien
Nama Pasien           : NT
Usia                                    : 35 tahun
Jenis Kelamin         : perempuan
2)      Keluhan pasien :
·         Mengalami serangan nyeri dada dan menjadi sesak nafas
·         Nafasnya semakin pendek hingga hanya mampu berjalan sebentar dan beraktivitas ringan
·         Kakinya bengkak
·         Nafsu makannya turun
·         Sering merasa penuh di perut serta cepat kenyang
3)      Keluhan Pasien           : Nafas pendek, nafsu             makan menurun, perut                                                terasa penuh, cepat kenyang.
4)      Riwayat Keluarga       : ayah menderta infark miokardia pada usia 53 thn                                        menikah, 6 anak, bisnis
5)      Riwayat penyakit penderita : Penyakit arteri koroner 10 tahun, Tidak ada                                                   alergi
6)      Riwayat sosial             : sendiri, tidak minum alkohol.
7)      Riwayat kesehatan      : Penyakit arteri koroner 10 tahun, tidak ada alergi
8)      Perilaku pasien            : olahraga ringan

b)      Objective
1)      Data Vital Sign
TB       : 173 cm
BB       : 72 kg
TD       : 140/120 mmHg
2)      Data Laboratorium      :
Hct : 41,1%,                                       
WBC : 5,3 x 103/µL (5,3 x 109/L)
Sodium : 132 mEq/L (132 mmol/L)   
Potassium : 3,2 mEq/L (3,2 mmol/L)
Bicarb : 30 mEq/L (0,8 mmol/L)        
chloride : 90 mEq/L (90mmol/L)
Magnesium : 1,5 mEq/L (0,8 mmol/L)
SCr : 0,8 mg/dL (71µmol/L)
Alk Phos : 120 IU/L (2 µKat/L)
c)      Assesment
1)      Problem Medik
Didalam kasus ini pasien mempunyai riwayat penyakit jantung koroner.
2)      Terapi yang diperoleh
Terapi yang diperoleh dari pasien adalah Diltiazem CD 80 mg once daily, Nitroglycerin 0,4 mg sublingual, Vitamin B12 once daily, dan Multivitamin daily
3)      DRP’s :
·         Over Dose :
Obat yang diberikan tidak Over Dose.
·         Under Dose :
Diltiazem yang dikonsumsi pasien Under Dose karena dosis diltiazem untuk long acting seharusnya 120-180 mg/hari.
·         Pemilihan obat tidak tepat :
Pemilihan obat pada kasus ini tidak tepat karena diltiazem menyebabkan udema dan untuk multivitamin dan vitamin   b12 akan lebih baik jika direduce salah satu
·         Adverse Drug Reaction
Efek yang ditimbulkan diltiazem pada kasus ini adalah terjadi edema.
·         Interaksi Obat
Pada kasus ini tidak terjadi interaksi obat.
·         Obat Tanpa Indikasi
Pada kasus ini terjadi interaksi obat.
·         Indikasi tanpa obat
Tidak ada indikasi tanpa obat pada kasus ini.
·         Kepatuhan Pasien
Kepatuhan pasien terhadap konsumsi obat ini sangat rendah dikarenakan pasien tidak memeriksakan diri selama 1,5 tahun.
d)      Plan
1)      Penetapan tujuan terapi
·         Untuk melebarkan pembuluh darah koroner sehingga memperlancar sirkulasi darah dan oksigen
·         menurunkan angka mortalitas dan morbiditas akibat penyakit jantung koroner.
2)      Solusi dari Problem DRP’s
Dosis obat diltiazem seharusnya ditingkatkan menjadi 120 mg/hari.
3)      Pemilihan Terapi farmakologi berdasar farmakoterapi rasional (4T1W)
TERAPI FARMAKOLOGI
·         Propanolol 40 mg once daily
·         Nitroglycerin 0,4 mg SL bila perlu
·         Aspirin 75 mg once daily
·         Multivitamin once daily
TERAPI NONFARMAKOLOGI
·         Diet lemak yang tinggi kalori
·         Mengurangi stress dengan selalu menenangkan pikiran saat bekerja
·         Inaktifitas fisik dalam sementara waktu
·         Melakukan medical check-up rutin (TD & BB)
·         Istirahat yang cukup

Pemilihan terapi farmakologi berdasarkan farmakoterapi rasional meliputi 4T1W
·         Tepat Indikasi :
PROPANOLOL
INDIKASI
Untuk hipertensi, ngina pectoris, menurunkan serangan angina pada penderita variant angina.
NITROGLYCERIN
Indikasi:
Untuk mengobati gagal jantung dan angina.
ASPIRIN
INDIKASI
Meredakan nyeri ringan sampai sedang, peradangan.
VIT.B12 & MULTIVITAMIN
INDIKASI
Suplemen vitamin mineral untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi multivitamin dan multimineral.
·         Tepat dosis      : Tidak, seharusnya dosis dinaikkan menjadi 120 mg/hari karena long acting untuk diltiazem tatapi nantinya diltiazem akan diganti dengan propanolol.
·         Tepat obat       : tidak tepat, obat diganti dengan golongan β blocker (propanolol) dan menghentikan terapi vit.B12 .
·         Tepat pasien    : tepat karena pasien dengan PJK (penyakit jantung koroner).
·         Waspada efek samping : Udema dan rasa tak bertenaga akibat penggunaan diltiazem. Serta konsumsi nitroglycerin SL yang berlebihan akan menyebabkan hipotensi.

V.                PEMBAHASAN
Pada kasus kardiovaskuler kali ini pasien mempunyai riwayat penyakit arteri koroner selama 10 tahun, tetapi pasien tersebut tidak control ke dokter selama 1,5 tahun. Pasien tersebut mengeluh mengalami serangan nyeri dada dan menjadi sesak nafas, gejala tersebut terus memburuh sejak 2 tahun dan nafasnya semakin pendek hingga hanya mampu berjalan sebentar dan beraktivitas ringan , pasien tersebut juga mengeluh kakinya bengkak sehingga tidak bisa lagi memakai sepatunya, nafsu makannya juga turun dan sering merasa penuh di perut serta cepat kenyang.
Dilihat dari riwayat keluarga pasien tersebut ayahnya mempunyai riwayat infarkmiokard , usia pasien tergolong muda dan satu-satunya hal yang menyebabkan pasien dapat mengalami Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah factor resiko genetic/keturunan karena dilihat dari life style nya pun pasien tidak mengkonsumsi alcohol. Riwayat pengobatan diltiazem 80 mg, nitroglycerin 0,4 mg sublingual, vit.B12 dan multivitamin. Dilihat dari keluhan yang dikeluhkan pasien, dapat disimpulkan bahwa gejala tersebut merupakan efek samping yang ditimbulkan oleh diltiazem. Hal ini dapat terjadi karena akumulasi atau lamanya pemakaian diltiazem yang sudah 10 tahun dikonsumsi pasien. untuk menghindari efek samping yang membuat pasien tidak nyaman maka harus dilakukan penggantian terapi obat. Akan tetapi penggantian diltiazem membutuhkan adaptasi dengan dilakukannya penurunan dosis secara bertahap ½ dari dosis sebelumnya, baru kemudian di ganti dengan obat lain. Obat pengganti yang tepat adalah propanolol yang merupakan obat antihipertensi golongan β-blocker untuk menghindari efek samping dari golongan CCBs (Calsium Channel Blockers) yaitu sembelit, mual, sakit kepala, ruam, edema (pembengkakan kaki-kaki dengan cairan), tekanan darah rendah, keadaan mengantuk, dan kepusingan. Selain itu, digunakannya propanolol adalah untuk menurunkan tekanan darah pasien karena berdasarkan vital sign didapatkan pasien dengan hipertensi stage 1 (JNC VII) dan dengan tekanan diastole yang sangat tinggi. Propanolol merupakan antihipertensiva golongan β-blocker yang awalnya diintroduksikan sebagai obat angina pectoris dan anti-aritmia (propanolol, 1964). Baru lebih kurang 10 tahun kemudian, obat ini digunakan sebagai obat hipertensi, yang kini menjadi penggunaan utamanya.
Dan tidak ada perubahan untuk terapi nitroglycerin karena disini digunakan hanya bila perlu untuk mengurangi rasa nyerinya juga. Dan diberikan antiplatelet jika memungkinkan untuk menunjang kerja propanolol dan nitroglycerin dalam memperlancar supply darah yang mengangkut oksigen.Untuk vitamin B12 dan multivitamin sendiri akan lebih baik jika hanya mengkonsumsi multivitamin dan menghentikan pemberian vitamin B12 tunggal. Hal ini dipertimbangkan sekali agar tidak memperberat kerja ginjal pasien. Dengan mengkonsumsi multivitamin tubuh akan mendapatkan antioksidan (vit.A dan vit.C) dan dapat menutupi kekurangan vitamin dan agar tubuh pasien tidak lemas.
VI.             KESIMPULAN
Pada kasus ini dapat disimpulkan bahwa rekomendasi obat yang sebelumnya dikonsumsi oleh pasien tidak tepat dikarenakan setelah pasien mengkonsumsi obat diltiazem CD 80 mg selama 10 tahun menyebabkan pasien mengalami efek samping yang terjadi yaitu edema,gangguan pencernaan,sehingga makin memperburuk ke adaan pasien, oleh karena itu menurut sumber yang kami dapatkan bahwa penggunaan diltiazem dengan jangka panjang dapat menimbulkan efek samping yang berat seperti yang di alami oleh ny NT yaitu edema (5- 15 %) medscape 2013. Dari kasus ini  maka penggantian obat diperlukan,dan penggantian obat yang kami rekomendasikan sebaiknya di ganti dengan golongan obat beta bloker yaitu propanolol sebagai terapi penggantian pertama untuk mengatasi penyakit PJK dan angina pectoris dengan cara sebagai vasodilator.dengan  syarat penggatian diltiazem tidak boleh langsung di hentikan karena kemungkinan dapat memperburuk ke adaan pasien caranya dengan menurunkan ½ dari dosis diltiazem yang di gunakan kemudian selanjutnya dapat diganti dengan golongan obat lainya.

VII.          DAFTAR PUSTAKA
      American Heart Association (AHA)   
Chung, EK, Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler, Jakarta, EGC, 1996
      Mary Baradero, Mary Wilfrid Dayrit, Yakobus Siswadi, 2008, Seri Asuhan Keperawatan Kilen Gangguan Kardiovaskuler, Jakarta: EGC
Moore, D. S., and McCabe, G. P. (1999), The Introduction to the Practice of Statistics (3rd ed.), New York: W. H. Freeman and Company.
Noer, Sjaifoellah, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta, FKUI, 1996
……., Dasar-dasar Keperawatan Kardiotorasik (Kumpulan Bahan Kuliah edisi ketiga),Jakarta : RS Jantung Harapan Kita, 1993.
Surwono,waspadji. 2003. Ende Diabetes Study: diabetes and its characteristics in rural area of East Nusa Tenggara : Penerbit UI
Krisnatuti D, Yenria R., Menyiapkan Makanan Pendamping ASI, 2000
Kartohoesodo, S. Memelihara Jantung Sehat dan Menjuga Jantung Sakit. Citra Budaya dan Karya Pembina Bangsa, Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar